ANAK DISABILITAS, Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan
Sakit katarak kongenital sejak bayi tidak menghalangi Melia
Rahayu Aquini (13) untuk mengembangkan bakat. ”Cita-cita aku mau menjadi musisi,
jadi sekarang mulai belajar piano dulu,” kata Melia di Sekolah Luar Biasa (SLB)
G milik Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta, Rabu (8/11). Melia
merupakan anak penyandang disabilitas dwituna, meliputi tunanetra dan tunagrahita.
Meski demikian, Melia dianugerahi bakat luar biasa, yaitu bernyanyi. Ia pernah menyabet
juara Festival dan Lomba Seni Siswa 2023 Se-DKI Jakarta. Saat ini, Melia duduk
di bangku kelas VI SD Luar Biasa (SDLB) Rawinala. Menjelang lulus SD, Melia ingin
melanjutkan pendidikan ke SMP reguler atau sekolah inklusi. ”Saya mau ke
sekolah biasa karena saya ingin merasakan menjadi orang normal itu bagaimana,”
ucapnya.
Ananda Fahira Ayun Rachmatika Hajiani (11), siswa kelas V
SLB Yayasan Putra Pancasila Bumiayu, Kedungkandang, Malang, Jatim, sejak kecil
tinggal bersama neneknya, Suwanti (62), di Tajinan, Malang. ”Awalnya saya takut
mengajak Fahira keluar. Takut dia kena bully karena ada saja orang yang
bisik-bisik dan itu membuat tidak nyaman,” kata Suwanti, Senin (6/11). Seiring
berjalannya waktu, akhirnya, ia mencari sekolah inklusi untuk cucunya, juga
guru les mengaji. Alhasil, Fahira bisa menyalurkan talenta menyanyinya. Suara
”emas” Fahira menjadikannya juara mengaji di tingkat lokal, provinsi, hingga se-Jawa.
Bahkan, Fahira sempat melakukan rekaman menyanyi di sebuah studio. ”Guru
nyanyinya juga disabilitas netra, guru mengajinya juga. Jadi, semua paham dan
mendukung kondisi Fahira. Tetapi, yang terpenting adalah dukungan keluarga.
Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar menyampaikan, masih minimnya pemahaman
dari keluarga dalam merawat dan mengasuh anak penyandang disabilitas merupakan
tantangan yang dihadapi oleh keluarga anak disabilitas. Tantangan terberat
adalah stigma, yang bersumber dari diri sendiri, keluarga terdekat, ataupun
masyarakat luas. Tantangan berikutnya adalah masih minimnya aksesibilitas.
”Kenyataannya, mewujudkan hadirnya aksesibilitas tersebut masih sulit dan
memerlukan upaya ekstra karena masih banyak pemangku kepentingan yang belum
mengarus utamakan kebutuhan bagi anak penyandang disabilitas,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023