Terlena Batubara
Alam menyediakan banyak hal yang kerap membuat penghuninya terlena. Salah satunya batubara, yang menjadi andalan sejumlah daerah di Indonesia. Tapi, negara-negara di dunia berkomitmen mewujudkan emisi nol karbon pada 2050. Upaya yang ditempuh, di antaranya, melalui transisi menuju energi baru terbarukan dan ramah lingkungan serta mengakhiri operasional pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara. Penggunaan energi bersih kian terpacu seiring investasi teknologi energi bersih yang meningkat. Menurut International Energy Agency, investasi energi bersih diperkirakan tumbuh 24 % pada 2021-2023. Pada 2023, investasi teknologi energi bersih diproyeksi 1,7 triliun USD.
Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, perlu persiapan dan kesiapan untuk mengakhiri eksplorasi dan penggunaan batubara. Sebab, komoditas sumber daya alam nonmigas itu memiliki andil signifikan dalam perekonomian nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Berdasarkan data BPS, Indonesia mengekspor 360,115 juta ton batubara senilai 46,764 miliar USD pada 2022. Berdasarkan data Kemenkeu melalui APBN Kinerja dan Fakta, iuran produksi atau royalti batubara menyumbang PNBP. Pada Januari-Juli 2023, royalty batubara Rp 66,22 triliun atau tumbuh 130,46 % dibandingkan Januari-Juli 2022. Peran batubara dalam perekonomian daerah dan nasional hendaknya mulai dialihkan ke sektor lain secara bertahap melibatkan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat serta bukan ke komoditas mentah. Dengan cara itu, akan ada nilai tambah yang diciptakan, tenaga kerja dan teknologi yang diserap, serta sesuai dengan kondisi setiap daerah. (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023