;

ANAK-ANAK PULAU TERLUAR, Berkubang Kemiskinan, Berjuang Gapai Mimpi di Mentawai

27 Jul 2023 Kompas (H)
ANAK-ANAK PULAU TERLUAR, 
Berkubang Kemiskinan, Berjuang Gapai Mimpi di Mentawai

Sinar matahari menyengat, Sabtu (8/7) di kompleks SMKN 2 Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar yang sepi. Lima remaja didampingi Amos Saputra Pikkok (19) menemui sejumlah guru dan pegawai yang melayani pendaftaran ulang calon siswa SMKN 2 tahun ajaran 2023/2024. Amos merupakan siswa kelas II SMKN 2, Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan. Amos mendampingi adiknya, Deni Suryani (17), dan sepupunya, yaitu Ilarius Alex (17), Susanna (17), serta kakak beradik Theresia Cici Setiawati (17) dan Gilbert Tomingse (15) dari Dusun Policoman dan Muara Sigep, Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Barat. Mereka tiba beberapa hari sebelumnya diantar orangtua masing-masing ke Siberut Selatan dengan kapal cepat dari Pelabuhan Pokai menuju Pelabuhan Maileppet. Hilarius dan Gilbert juga memilih jurusan nautika kapal penangkap ikan. Sementara Deni, Susanna, dan Theresia memilih jurusan perhotelan. Harapannya, jika lulus nanti, bisa langsung bekerja, membantu orangtua di kampung yang jadi petani.

”Saya ingin selesai sekolah bisa kerja biar bantu orangtua. Sebab, adikku masih kecil,” ujar Susanna yang menangis jika ditanyai soal orang tuanya. Sekolah itu merupakan satu-satunya SMK di Siberut. Untuk sampai di sekolah, mereka harus naik perahu motor menuju Pelabuhan Pokai sekitar dua jam jika cuaca bagus. Sewa perahu berkapasitas 5-6 penumpang itu Rp 1 juta. Dari Pelabuhan Pokai, mereka naik kapal cepat dari Padang yang membawa mereka ke Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan. Biaya tiketnya Rp 125.000 per orang. Setiba di Maileppet, mereka mengeluarkan ongkos untuk ojek motor menuju tempat kos. Pendidikan merupakan jalan menuju kehidupan lebih baik di masa depan. Namun, bagi anak-anak pedalaman Mentawai, mendapat pendidikan perlu perjuangan untuk meraihnya.

Apalagi ketika kondisi  ekonomi keluarga terbatas. Di Kepulauan Mentawai, jumlah SMA dan SMK minim, tahun 2022, hanya ada 13 SMA negeri, 2 SMA swasta, dan 3 SMK. Untuk bisa bersekolah di SMP dan SMA, anak-anak dari dusun terpencil harus kos atau tinggal di rumah keluarga. Bukan hal mudah bagi mereka saat kondisi keuangan tak mendukung dan tak ada fasilitas pendukung dari negara. Sejumlah siswa putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu membiayai. Anak-anak Mentawai kerap tak dibekali dana cukup untuk biaya hidup selama sekolah. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai Oreste Sakeru mengungkapkan, pemda setempat membuat program membangun asrama bagi siswa SMP dan SMA dari desa terpencil. Pemda setempat juga bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa untuk menerima lulusan SMA/SMK Mentawai. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :