MENANGKIS EFEK MANUVER AS
Dampak kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan pergeseran plafon utang Amerika Serikat (AS) diyakini tidak akan menimbulkan gejolak pasar keuangan di dalam negeri mengingat pelaku pasar sudah memperhitungkan risiko tersebut sejak jauh-jauh hari. Optimisme itu dilandasi oleh masuknya aliran dana asing atau capital inflow ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD) mencapai Rp75,12 triliun. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan pelonggaran plafon utang AS sejatinya memberikan kepastian kepada pelaku pasar. Mengecilnya ruang fiskal di AS tidak perlu disikapi berlebihan seperti yang terjadi beberapa waktu ini sehingga sempat memunculkan sentimen negatif. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mendasari optimisme pemerintah mampu meminimalisasi risiko guncangan dari potensi penggelembungan obligasi AS. Pertama, meningkatnya appetite investor asing yang tecermin dari data capital inflow senilai Rp75,12 triliun di pasar SBN hingga 9 Juni 2023. Kedua, porsi investor domestik yang makin besar sehingga mampu menahan efek pelarian modal. Ketiga, kesiapan pelaku pasar dalam merespons dinamika ekonomi Negeri Paman Sam, baik dari sisi kebijakan suku bunga acuan maupun kenaikan plafon utang. Per 12 Juni 2023, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun telah turun 62 basis poin, dan secara Month to Date (MtD) turun 5 basis poin.
Pemerintah memang patut waspada lantaran ekspektasi membanjirnya US Treasury dapat menyulitkan upaya pemerintah dalam menghimpun pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui penerbitan SBN. Alasannya, investor dapat terpicu untuk memindahkan modalnya ke AS yang memberikan imbal hasil tinggi sehingga memunculkan kekhawatiran surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah tidak terserap oleh pasar dengan maksimal. Perbedaan suku bunga itu berisiko memicu perpindahan dana masyarakat dari perbankan ke obligasi negara. Artinya, terjadi perebutan likuiditas antara pemerintah dan perbankan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan kepada pemerintah untuk tetap mencermati risiko tersebut meskipun sepanjang tahun berjalan pasar SBN masih cukup menarik. Kepala Riset Pendapatan Tetap Mandiri Sekuritas Handy Yunianto memandang faktor penting dari stabilitas pasar keuangan ada pada perbedaan yield antara obligasi di Indonesia dan AS. Sepanjang imbal hasil SBN masih cukup baik, obligasi negara pun bakal terserap dan kebutuhan pembiayaan APBN terpenuhi.
Tags :
#UmumPostingan Terkait
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Potensi Lonjakan Rasio Utang perlu Diwaspadai
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Pasar Dalam Tekanan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023