Pancasila sebagai Ekologi Budaya
Tema Hari Lahir Pancasila 2023, ”Gotong royong membangun peradaban dan pertumbuhan global”, menggambarkan harapan bahwa Pancasila tak hanya bisa berperan dalam konteks nasional, tetapi juga global. Apabila sasarannya adalah kontribusi Indonesia dalam peradaban dan pertumbuhan global, jelas perlu agenda besar membumikan Pancasila dalam konteks global. Dalam dekade-dekade terakhir, ketegangan global tak hanya dalam struktur ekonomi, geopolitik, dan militer, tetapi juga dalam lalu lintas komunikasi budaya dan perang informasi. Internet semula ruang bebas berbagi informasi untuk semua, kemudian berkembang menjadi kendaraan utama iklan komersial dan politik serta medan propaganda, terorisme, dan kriminalitas. Sementara masa depan bangsa-negara kita secara intrinsik akan terkait dengan sikap kita terhadap perubahan lingkungan alam dan budaya.
Kita merindukan Pancasila memengaruhi tindakan nyata berbudaya. Sayangnya, Pancasila belum sepenuhnya menjadi kekuatan inspirasi, apalagi rujukan dalam bertindak, baik dalam politik maupun ekonomi. Sementara kesadaran budaya dan cara berpikir kita sebagai bangsa seperti hanya jalan di tempat. Pemikiran kita sering terlalu subyektif, seolah bangsa ini hidup sendirian dalam ruang hampa, seakan tak tersentuh paham lain yang berseliweran dari berbagai penjuru dan aneka media. Tak jarang Pancasila sebagai ideologi politik digunakan secara agresif untuk mencari kawan-lawan dalam masyarakat, bukan dalam konteks pencarian solusi atas masalah bersama. Pancasila terkadang masih dipakai sebagai mesin penyeragaman untuk menakut-nakuti warga agar tunduk pada kuasa (ekonomi atau politik).
Menempatkan Pancasila dalam kesadaran ekologi budaya menjadi alternatif berpikir untuk menjadikannya bukan seonggok ideologi abstrak atau gugusan norma. Karena budaya adalah darah kehidupan kita. Sebagai ekologi budaya, Pancasila adalah ”rumah besar” bagi bernaungnya secara harmonis dan saling tergantung aneka ragam budaya Nusantara. Sebagai ekologi budaya, ia juga ”rumah kecil” untuk menyambungkan hati kita dalam mengapresiasi perbedaan pikiran atau paham sebagai kekayaan, bukan ancaman. Kesadaran ekologi budaya Pancasila sejatinya tidak memberi ruang bagi warga yang setelah hampir delapan dekade merdeka, tetapi berlomba menjadi pejabat publik atau wakil rakyat hanya untuk tujuan memperkaya diri atau kelompok. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023