;

Coldplay Membawa Jakarta Lebih Dekat Menjadi Kota Musik

Coldplay Membawa Jakarta Lebih Dekat Menjadi Kota Musik

Bagi penggemar Coldplay, hari-hari ini terasa magic laksana mimpi yang kesampaian setelah grup band tersebut memastikan menggelar konser di Indonesia pada 15 November mendatang. Akun resmi Coldplay Indonesia di Twitter mengabarkan, pada 17 Mei, lebih dari 1,5 juta orang ikut berburu tiket presale konser. Untuk tiket Rp 800.000 hingga Rp 11 juta per orang, banyak yang mengorbankan tabungan dan mengandalkan pinjaman daring. Prinsip apa pun demi yang dipuja ini membuka mata betapa besar pengaruh konser musik, setidaknya dari nilai uangnya. Setiap orang yang membeli tiket pasti mempersiapkan diri untuk akomodasi dan dana membeli merchandise resmi Coldplay. Bagi kota tempat konser, persiapannya mengeruk uang, membutuhkan waktu lama, serta mematangkan perencanaan untuk menyiapkan infrastruktur yang diperlukan. Namun, anggaran besar kota ataupun individu itu setara dengan apa yang didapatkan kemudian.

Forbes.com menyatakan, konser musik menjadi salah satu alasan utama pusat kota bangkit lagi sejak gejala perluasan kota besar-besaran ke pinggiran terjadi merata di seluruh dunia 50 tahun terakhir. Apalagi umumnya kota-kota utama memiliki fasilitas lebih memadai dibandingkan kota-kota baru di sekitarnya. Setelah Covid-19 melandai, konser musik menghadirkan langsung para musisi kenamaan di panggung berinteraksi dengan penggemarnya bersemi di banyak kota di dunia. Konser di dalam ataupun di luar ruang diselenggarakan sebebas, seramai, dan semegah sebelum pagebluk, seusai WHO mencabut status Covid-19 sebagai wabah global. Konser musik kembali pada kiprah pentingnya menghidupkan kota sekaligus ekonomi.

Catatan organisasi nirlaba di bidang industri rekaman dunia, International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), pada 2022, total streaming dengan menghitung langganan berbayar dan iklan mencapai 17,5 miliar dollar AS, 67 % dari pendapatan musik rekaman global. Sisanya pertumbuhan di area lain seiring kembalinya berbagai aktivitas, termasuk konser luring. Di Indonesia, tak hanya Jakarta yang kian rutin menjadi lokasi konser musik kelas dunia. Kota-kota kecil, seperti Surakarta dan Boyolali di Jateng pun unjuk gigi. Shain Shapiro, pendiri dan CEO Sound Diplomacy, dalam tulisannya di Forum Ekonomi Dunia 2019 menyatakan, kota menjadikan budaya sebagai salah satu yang dipertimbangkan dalam kebijakan penggunaan lahan, regenerasi area urban, menggenjot pariwisata, pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Budaya, termasuk musik, yang menjadi tonggak pembangunan kota. ”Bidang yang muncul ini menciptakan ’Moniker’ (julukan) baru, yaitu kota musik. Menjadikan kota tempat untuk memikirkan musik dan memasukkannya kebijakan pembangunan, selain menikmatinya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :