;

Beban Tinggi Emiten Konstruksi

Ekonomi Hairul Rizal 15 May 2023 Kontan
Beban Tinggi Emiten Konstruksi

Pertumbuhan emiten sektor konstruksi masih akan tertahan sejumlah sentimen negatif. Meskipun ada kenaikan anggaran infrastruktur, emiten sektor konstruksi dibayangi oleh tahun pemilu dan masih tingginya beban biaya konstruksi. Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori, Nicodimus Kristiantoro mengatakan, biasanya proyek infrastruktur bakal dikebut menjelang pelaksanaan pemiluhan umum. Hal ini memang berpotensi mendorong kontrak baru emiten konstruksi. Hanya saja, tahun pemilu juga bisa menimbulkan ketidakpastian baru. "Misalnya, paket proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang belum terkontrak bisa menjadi tidak pasti, terutama jika pemerintahan yang terpilih nanti memiliki prioritas berbeda dengan pemerintah saat ini," ujarnya, Minggu (14/5). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Muhammad Naufal Yunas mengatakan, pertumbuhan kontrak baru emiten konstruksi bakal lebih moderat pada tahun ini. Khususnya, kontraktor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Agenda tahun politik 2023-2024 justru akan menimbulkan ketidakpastian kontrak konstruksi yang dikeluarkan oleh pemilik proyek. Di sisi lain, Naufal menilai margin kotor emiten konstruksi, terutama BUMN juga diprediksi lebih rendah. Hal ini karena adanya biaya konstruksi yang lebih tinggi. Salah satunya akibat harga patokan material yang naik, terutama besi, baja, dan semen. Selain itu, harga bahan bakar terbilang masih naik sejak kuartal IV 2022. Begitu pula dengan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi karena adanya penyesuaian upah minimum. Beberapa emiten konstruksi BUMN juga dibayangi dana kas terbatas dan masalah utang. Di sisi lain, sejumlah emiten konstruksi swasta masih memiliki kinerja positif. Kepala riset Surya Fajar Sekuritas Raphon Prima menilai, salah satu emiten yang masih berpeluang mencetak kenaikan laba bersih adalah PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL). Kinerja TOTL akan terdorong dari ekspansi yang dilakukan oleh sejumlah pengembang properti. Di sisi lain, emiten konstruksi swasta juga masih akan menghadapi persaingan tarif harga yang ketat. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengingatkan, agar mewaspadai emiten konstruksi yang memiliki debt to equity ratio di atas 5 kali. Contohnya, PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Download Aplikasi Labirin :