Bank Jadi Penopang Emiten Grup Pelat Merah
Emiten saham konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang babak belur. Beban utang dan kasus korupsi menyebabkan kinerja mereka merah. Bahkan mulai Senin (8/5), otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau mensuspensi perdagangan saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Ini adalah imbas dari penundanan pembayaran bunga ke-11 Obligasi Berkelanjutan IV Waskita Karya Tahap I Tahun 2020 yang jatuh tempo Mei ini. Dari sisi kinerja keuangan, WSKT merugi Rp 374,93 miliar pada kuartal I-2023. Catatan tersebut sebenarnya lebih baik dari kuartal I-2022 saat WSKT mencatatkan rugi bersih Rp 830,64 miliar. Sejawat WSKT sesama BUMN karya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), juga mencetak rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai Rp 521,26 miliar di periode yang sama. Di periode sama tahun lalu, WIKA mendulang laba Rp 1,33 miliar. Salah satu penyebab memburuknya kinerja emiten saham BUMN karya adalah minimnya keberhasilan mereka dalam meraih kontrak baru. WIKA, misalnya, mengantongi kontrak baru Rp 6,1 triliun pada kuartal I-2023 atau 17,94% dari target minimal WIKA tahun ini yang di kisaran Rp 34 triliun-Rp 36 triliun.
Nah, secara umum, BUMN perbankan yang masih membukukan kinerja memukau. Kinerja bank pelat merah juga menjadi penopang kinerja BUMN secara keseluruhan. Tak heran bila emiten saham bank pemerintah juga mendominasi bobot indeks emiten BUMN yang masuk daftar IDX BUMN20. Sampai akhir Maret 2023, Bank Mandiri (BMRI) menyumbang bobot 15,80%. Menyusul Telkom Indonesia (TLKM) sebesar 15,70%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 15,40%, Bank BNI (BBNI) 15,30% dan Semen Indonesia (SMGR) 6,93%.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengemukakan, penundaan pembayaran bunga obligasi menjadi sentimen negatif bagi WSKT. Kasus korupsi yang menjerat sejumlah direksi WSKT juga turut menyeret saham ini lebih dalam ke zona merah. "Biasanya (sentimen negatif) sejalan dengan pelemahan harga saham," kata Nafan, kemarin,
Pengamat Pasar Modal, Teguh Hidayat melihat sektor yang prospektif di tahun 2023 ini adalah saham bank. "Kalau dari kelompok BUMN saat ini hanya perbankan yang menarik," kata Teguh, Senin (8/5).
Tags :
#SahamPostingan Terkait
KB Bank Raih Fasilitas Pinjaman Rp 3 Triliun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023