MESIN EKONOMI MENDERU
Deru mesin ekonomi mulai terdengar di era pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Hal itu tercermin dari raihan laju produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2023 sebesar 5,03% secara tahunan. Realisasi pertumbuhan ekonomi itu melampaui ekspektasi ekonom sebesar 4,98% dan sejalan dengan rentang perkiraan pemerintah. Di balik laju ekonomi pada tiga bulan pertama tahun 2023, terdapat kinerja industri pengolahan yang tumbuh 4,43% secara tahunan sehingga berkontribusi sebesar 18,57% terhadap PDB. Kontribusi industri tumbuh secara kuartalan tetapi belum mampu menyaingi kontribusi pada kuartal I/2020 atau sebelum pandemi yakni 19,98%. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Moh. Edy Mahmud menyampaikan perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.071,7 triliun, sementara berdasarkan harga konstan mencapai Rp2.961,2 triliun. Berdasarkan lapangan usaha, sektor industri masih menjadi sumber pertumbuhan utama ekonomi Indonesia dengan sumbangan sebesar 0,92%. Lebih lanjut, industri logam dasar tumbuh 15,51% akibat meningkatnya permintaan produk olahan bijih nikel.
Selain industri logam dasar, BPS mencatat industri makanan dan minuman tumbuh 5,33%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan produksi crude palm oil dan crude palm kernel oil akibat permintaan domestik jelang Ramadan dan Idulfitri 2023. Menanggapi kinerja PDB pada kuartal I/2023, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai menguatnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia solid dan melebihi capaian China yakni 4,5%. Sri berujar, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi bantalan agar RI tetap melaju di tengah dinamika ekonomi internasional. Kondisi itu terlihat di antaranya dari komponen konsumsi pemerintah dan belanja negara. Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 4% secara tahunan. Terpisah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut ruang pertumbuhan kinerja industri pengolahan terbatas karena rantai pasok global masih terganggu. Hal tersebut disampaikan untuk merespons kinerja produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I/2023 yang tumbuh 5,03% (year-on-year/yoy). “2023 merupakan tahun yang secara inheren sulit untuk menciptakan kinerja usaha yang eksponensial,” kata Wakil Ketua Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani.
Postingan Terkait
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023