Menanti Komitmen Penutupan PLTU
JAKARTA — Penutupan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara tua pada 2025 dianggap sebagai langkah penting untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025, dan target pensiun seluruh PLTU batu bara pada 2050. Dengan mempensiunkan PLTU batu bara, masalah surplus listrik yang kini dialami PLN bisa terselesaikan. "Bersamaan dengan itu, pasokan dari pembangkit listrik energi terbarukan bisa ditambah," ujar Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, kepada Tempo, kemarin.
Fabby mengatakan, ada beberapa PLTU yang bisa dipensiunkan karena usianya sudah tua. Dua di antaranya adalah PLTU Suralaya di Cilegon, Banten, dengan kapasitas pembangkitan 1,6 gigawatt; dan PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur, dengan kapasitas pembangkitan 1 gigawatt. Penutupan dua pembangkit ini bisa memberi ruang untuk pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT). Meski demikian, Fabby menyadari bahwa penutupan PLTU tua tidak bisa dilakukan begitu saja karena statusnya sebagai aset negara. Namun tahapan itu perlu dilakukan jika pemerintah memang berkomitmen mengejar transisi energi. Karena itu, yang terpenting, pengakhiran operasi harus dilakukan secara hati-hati. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023