;

KEUANGAN, Kaya dan Miskin Sama-sama Terjerat

Ekonomi Yoga 26 Apr 2023 Kompas
KEUANGAN, Kaya dan Miskin Sama-sama Terjerat

Beberapa waktu terakhir, ramai pemberitaan soal pembunuhan dengan modus penipuan dukun pengganda uang di Banjarnegara, Jateng. Pelakunya, Slamet Tohari (45) yang biasa dipanggil Mbah Slamet, menjerat korban dengan iming-iming kemampuan menggandakan uang dengan kekuatan mistis. Para korban kebanyakan datang dari kalangan yang terimpit beban ekonomi. Mereka tergiur iming-iming kaya dengan instan. Tentu saja, kemampuan penggandaan uang Mbah Slamet omong kosong belaka. Ia menipu korban dengan mengambil uangnya, juga mencabut nyawa korban untuk menutupi kejahatannya. Sejauh ini, sudah ada 12 korban meninggal. Ini bukan kali pertama mencuat fenomena penipuan dukun dengan modus penggandaan uang. Sebelumnya, pada 2016, publik dihebohkan dengan aksi penggandaan uang dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dia juga memerintahkan pembunuhan korban yang meragukan kemampuannya. Kini, Dimas Kanjeng meringkuk di bui dengan vonis 21 tahun.

Publik juga dihebohkan sejumlah kasus penipuan investasi bodong. Mulai dari kasus investasi bodong dengan iming-iming influencer, seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan, hingga kasus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya yang menyasar kalangan ekonomi menengah ke atas di kawasan perkotaan. Indra Kenz dan Doni Salmanan beroperasi dengan menumpang derasnya arus informasi media sosial dan pesatnya aplikasi keuangan digital. Indra dan Doni mengimingi-imingi warganet hidup bergelimang harta dan mengajarkan mereka berinvestasi di instrumen tertentu yang pada akhirnya terungkap bahwa itu pun penipuan. Ribuan korban tertipu dan merugi jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Kendati menyasar segmen masyarakat yang berbeda dan menggunakan modus operandi berbeda, kasus-kasus penipuan ini punya satu kesamaan, yakni memanfaatkan hasrat ingin kaya secara instan dengan mudah tanpa bekerja.

Banyaknya warga yang terjerat investasi bodong ini juga mencerminkan masih rendahnya tingkat literasi keuangan di Tanah Air. Mengutip Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dirilis OJK pada 2022, tingkat literasi keuangan pada level 49,68 %, naik dibanding pada 2019, di level 38,03 %. Survei dilakukan kepada 14.634 responden yang tersebar di 34 provinsi. Adapun yang dimaksud dengan literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku keuangan seseorang. Fenomena kondisi literasi keuangan yang belum merata ditambah kebutuhan pendanaan masyarakat yang tinggi, serta perilaku masyarakat yang ingin kaya instan, ini pun dibaca sebagai peluang bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :