;

Memanfaatkan Celah Lonjakan Harga LNG

Memanfaatkan Celah Lonjakan Harga LNG

Isu geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang masih bergejolak, terus memicu kenaikan permintaan gas alam cair dari sejumlah negara Eropa. Strategi pemerintah Rusia yang sejak tahun lalu mengurangi bahkan menyetop pasokan gas setelah melancarkan aksi ke Ukraina, membuat sejumlah negara Uni Eropa secara agresif berburu gas ke negara di luar Benua Biru. Aksi agresif ini membuat pasokan LNG global makin ketat sekaligus mendongkrak harga jual komoditas tersebut hingga saat ini. Berdasarkan laporan Shell LNG Outlook 2023, lonjakan impor LNG di negara-negara Eropa dan Inggris pada 2022 mencapai 121 juta ton atau 60% lebih tinggi dibandingkan dengan 2021. Kenaikan permintaan yang diikuti kenaikan harga LNG ini sudah barang tentu menguntungkan negara-negara produsen LNG, termasuk Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak didekati dengan tujuan mendapatkan pasokan LNG. Pasalnya, tahun lalu saja setidaknya ada 196 kargo LNG diproduksi Indonesia dari Kilang Bontang, Kalimantan Timur dan Tangguh, Papua, dengan rincian 55,8 kargo untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan 140,2 kargo lainnya diekspor. Tingginya permintaan LNG ini membuat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan kenaikan produksi LNG sebanyak 204 kargo, dengan rincian 80 kargo dari Bontang dan 124 kargo sisanya dari Tangguh. Harian ini menilai, tren kenaikan harga LNG ini seyoginya turut dimanfaatkan untuk menambah besar jumlah kontribusi sektor energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun, pemerintah tidak boleh lupa untuk mengutamakan keamanan pasokan LNG dalam negeri melalui neraca gas. Prioritas pemanfaatan gas domestik antara lain untuk kebutuhan kelistrikan, rumah tangga, dan sektor industri khususnya pupuk perlu mendapatkan perhatian.

Download Aplikasi Labirin :