Kemiskinan Ekstrem Bayangi Jakarta
Masyarakat yang miskin ekstrem di DKI Jakarta semakin bertambah. Pemberian bantuan sosial tidak cukup untuk mengatasi hal ini. Dibutuhkan program penanganan kemiskinan di DKI yang efektif dan tepat sasaran. Kehidupan di Ibu Kota yang kian berat dirasakan Arif (49), nelayan di Kampung Apung, Penjaringan, Jakut. Di rumahnya yang terbuat dari papan, Sabtu (4/2), Arief mengaku pendapatannya kurang dari Rp 300.000 per bulan. Ia pernah menerima dana bansos saat pandemi Covid-19, 2020. Namun, hanya sekali dan tidak pernah lagi. Warga Kampung Apung lainnya, Indah (50), mengatakan hal senada. ”Saya dengar ada BLT (bantuan langsung tunai) yang dibagiin pemerintah, tapi sampai sekarang enggak ada yang kami terima tuh,” katanya.
Laporan BPS DKI Jakarta, Senin (30/1), menyebutkan, kemiskinan ekstrem di DKI pada Maret 2022 sebanyak 0,89 %. Dibandingkan Maret 2021, kemiskinan ekstrem di DKI 0,6 %. Artinya, ada kenaikan 0.29 %. Kepala Bagian Umum BPS DKI Jakarta Suryana menyebutkan, penduduk miskin ekstrem paling banyak di Jakut dan paling sedikit di Jakbar. Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan, pemprov mengupayakan sejumlah intervensi. Pertama, memutakhirkan data kemiskinan. Kedua, memberikan bansos. Ketiga, meningkatkan produktivitas dengan pelatihan keterampilan kerja dan kewirausahaan. Terakhir, menerapkan program berbasis kewilayahan. (Yoga)
Postingan Terkait
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023