;

Risiko Hulu Migas Mesti Terpetakan

Lingkungan Hidup Yoga 20 Jan 2023 Kompas
Risiko Hulu Migas
Mesti Terpetakan

Capaian produksi hulu minyak dan gas bumi pada 2022 yang belum sesuai harapan perlu direspons dengan sejumlah perbaikan, seperti terkait data dan perizinan. Berdasarkan laporan kinerja SKK Migas, realisasi produksi siap jual (lifting) tahun 2022 sebanyak 612.300 barel per hari atau 87,1 % target APBN 2022, lebih rendah dibandingkan realisasi pada 2021 sebesar 660.300 barel per hari. Adapun realisasi salur gas bumi 2022 sebanyak 5.347 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 92,2 % target serta di bawah capaian 2021 sebesar 5.505 MMSCFD. Sementara itu, rasio pemulihan cadangan (reserve replacement ratio/RRR) pada 2022 mencapai 156 %, biaya produksi yang dipulihkan (cost recovery) sebesar 7,8 miliar USD, penerimaan negara 18,19 miliar USD, dan investasi 12,3 miliar USD. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, Kamis (19/1) mengatakan, secara alamiah, penurunan produksi wajar jika belum ditemukan sumur-sumur baru. Investasi 12,3 miliar USD pada 2022 masih didominasi kategori produksi sebanyak 8 miliar USD. Sementara eksplorasi 0,8 miliar USD, pengembangan 2,7 miliar USD, dan administrasi 0,87 miliar USD.

”Kuncinya pada eksplorasi. (Di hulu migas) Menanam itu pada eksplorasi. Kalau tidak pernah menanam, maka tak pernah memanen. Sementara porsi yang digunakan untuk menanam kecil. Memang sudah ada peningkatan (naik dari 0,6 miliar USD pada 2021), seharusnya ditingkatkan lagi,” kata Komaidi. Upaya peningkatan investasi pada eksplorasi, imbuhnya, bisa dilakukan dengan meminimalkan risiko, seperti perbaikan data dan kemudahan perizinan oleh pemerintah. ”Perlu diusahakan agar risikonya lebih terpetakan sehingga (investor) yang menanam investasi lebih percaya diri,” lanjutnya. Staf pengajar dan Ketua Jurusan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta, Topan Herianto, berpendapat, diperlukan sinkronisasi antara perencanaan dan operasi. Evaluasi komprehensif juga diperlukan. Ia pun menilai, kurangnya eksplorasi pada cekungan yang prospektif juga memberi pengaruh langsung. ”Pengendalian biaya, evaluasi keberhasilan, dan evaluasi kegagalan perlu terus dilakukan. Kegiatan eksplorasi juga harus masif agar cadangan tidak habis. Fleksibilitas bagi hasil antara gross split atau cost recovery mungkin menjadi peluang, tetapi penetapan revisi UU Migas saatini masih berlarut,” ujar Topan. (Yoga)


Tags :
#Migas
Download Aplikasi Labirin :