;

Jadi Tetangga Jangan Gitulah

Jadi Tetangga Jangan Gitulah

Adinda (45) tak leluasa lagi mendapatkan sinar matahari akibat tetangga meninggikan pagar dinding rumahnya. Gegara itu, sinar keakraban antara dia dan tetangganya sirna. Adinda dan keluarga memilih menjual rumah yang sudah tujuh tahun mereka tinggali, lalu pindah. ”Habis bagaimana, namanya bertetangga. Masak enggak akur,” ucap Adinda, Rabu (11/1). Mereka menduga akar masalahnya dari suara mobil suami Adinda. ”Mungkin berisik karena memang mobil tua. Asapnya juga masuk rumah mereka. Tapi, kan, ini bisa dibicarakan baik-baik sebenarnya,” ujar Adinda yang sekarang lebih tenang di hunian barunya. Adakalanya konflik antar tetangga dipicu perbedaan batas toleransi keramaian. Kuncinya ada di komunikasi dengan dasar saling pengertian. Inilah yang sedang dirancang Satria (33), lajang yang tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan, setelah berseteru dengan tetangga, pasangan muda dengan anak balita. Kompleksnya juga kluster kecil, hanya dihuni 10 keluarga, tanpa petugas keamanan. ”Tiga tahunan lalulah kira-kira. Nggak lama sebelum pandemiCovid-19,” kata Satria yang bekerja di bidang IT. Suatu ketika, saat Satria dan teman-temannya sedang asyik mengobrol dan memainkan gitar, istri tetangga rumah keluar rumah sembari marah-marah. Saat itu lumayan larut. ”Dia meminta kami berhenti ngobrol dan main gitar. Katanya berisik, anaknya jadi rewel sulit tidur,” kata Satria yang saat itu juga segera meminta teman-temannya untuk segera bubar.

Dia tidak sakit hati atau dendam ditegur begitu. Namun, karena mereka memilih untuk sama-sama diam, sejak saat itu relasinya dengan tetangga sebelah rumah menjadi lebih dingin, tidak akrab lagi seperti dulu. Satria sedang berusahamencariwaktu yang tepat untuk silaturahmi lagi. ”Grogi juga, sih. Tapi, mudah-mudahan nanti ada kesempatan baik,” ujarnya.Dalam banyak kasus, perselisihan antartetangga kerap terjadi lantaran sikap egois dan tipisnya tenggang rasa kepada tetangga. Persoalan antartetangga ibarat persoalan laten yang rentan menyulut persoalan lebih besar, seperti dialami Adinda, dan Satria. Tidak mengherankan apabila akun seperti Seputar Tetangga di Instagram dan Twitter pun banyak menerima kiriman curhat orang-orang yang bermasalah dengan tetangga mereka. Misalnya, ada tetangga yang doyan karaoke hingga jauh malam sehingga mengganggu waktu istirahat, kotoran hewan peliharaan yang mengotori teras rumah, soal parkir sepeda motor dan mobil tidak pada tempatnya, tetangga yang senang main selonong masuk rumah, anak tetangga yang banyak polah tapi orangtuanya tidak peduli, dan masih banyak lagi. Ini menunjukkan  peliknya kehidupan bertetangga. Tak jarang, kasus antar tetangga itu muncul di media massa karena dilaporkan ke polisi. Jadi tetangga jangan gitulah. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :