;

Kunjungan ke Labuan Bajo Merosot

Ekonomi Yoga 02 Jan 2023 Kompas
Kunjungan ke Labuan Bajo Merosot

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, pada hari libur Natal dan Tahun Baru kali ini menurun drastis. Sejumlah wisatawan yang sudah jauh-jauh hari merencanakan perjalanan mendadak batal. Cuaca buruk dan ancaman resesi ekonomi diduga menjadi penyebabnya. Meski demikian, pelaku usaha pariwisata tetap optimistis dan terus membenahi pelayanan. Ketua Harian Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Manggarai Barat Donatus Matur, dihubungi di Labuan Bajo, Minggu (1/1) mengatakan keheranan atas menurunnya jumlah wisatawan ke Labuan Bajo dan sekitarnya tahun ini. Kondisi tahun ini berbeda dengan jumlah pengunjung pada Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Kali ini, kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara menurun drastis, berkisar 40-50 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. ”Kami sudah konfirmasi ke teman-teman perhimpunan hotel dan restoran, organisasi pelaku usaha wisata lain di Manggarai Barat. Kondisinya seperti itu,” kata Matur.

Wisatawan tetap berkunjung ke Labuan Bajo, tetapi didominasi pengunjung domestik dan jumlahnya pun tidak seperti akhir 2021. Saat itu, Labuan Bajo cukup dipadati wisatawan asing dan domestik. Lima hingga 10 kapal pesiar datang dan pergi membawa wisatawan mancanegara. Satu kapal pesiar membawa hingga 2.000 wisatawan. Namun, tahun ini tidak ada sama sekali kunjungan kapal pesiar. Faktor lain yang menjadi penyebab menurunnya wisatawan diduga adalah kebijakan Pemprov NTT yang menaikkan tarif masuk Taman Nasional (TN) Komodo per 1 Januari 2023 senilai Rp 3,7 juta per orang. Meski kebijakan itu sudah dicabut pada November 2022, wisatawan khawatir, setelah tiba di Labuan bajo, peraturan tentang tarif masuk TN Komodo itu diberlakukan. Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Hotel Restoran dan Nelayan NTT Leo Arakian mengatakan, berdasarkan laporan  dari 22 kabupaten/kota di NTT, jumlah kunjungan ke hotel-hotel di NTT selama Natal dan Tahun Baru ini tidak banyak. Kondisi ini jauh lebih buruk dibandingkan tahun 2021. Sebanyak 487 hotel di NTT hanya terisi 40 %. Meski demikian, pelaku usaha wisata harus optimistis menatap tahun 2023. Pelaku usaha diharapkan terus meningkatkan kreasi dan inovasi di bidang pelayanan, promosi. dan terus berbenah meski ada ancaman resesi global. (Yoga)


Tags :
#Pariwisata
Download Aplikasi Labirin :