Menjaga Keberlanjutan Sukses Inovasi
Di tengah ketidakpastian akhir pandemi Covid-19, dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi. Inflasi dan resesi ekonomi yang memicu instabilitas politik di sejumlah negara membuat pemenuhan kebutuhan dasar jadi lebih menantang. Namun, kondisi itu juga bisa menjadi peluang mendorong riset dan inovasi lebih maju. Terganggunya rantai pasok global obat dan alat kesehatan pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020 membuat Kemenristek saat itu bergerak cepat mengoordinasi semua lembaga riset dan perguruan tinggi membuat berbagai produk kesehatan yang dibutuhkan dalam menangani Covid-19. Dengan tujuan terarah, penugasan gamblang, pendanaan jelas, sistem pendanaan riset yang dipermudah, hingga koordinasi lintas keilmuan dan lembaga yang lincah, terpacu lahirnya banyak inovasi dalam waktu singkat dan kondisi terbatas. Dukungan penuh lembaga sertifikasi membuat berbagai inovasi segera diserap pasar sekaligus membantu masyarakat. Sejumlah inovasi itu di antaranya menghasilkan bahan dan alat uji cepat antigen, ventilator, laboratorium uji bergerak, robot pembersih ruang isolasi, dan vaksin. Sebagian inovasi itu tak dipakai lagi seiring terkendalinya penyebaran Covid-19, tetapi sebagian baru akan dipakai dalam waktu dekat, seperti vaksin. Berbagai riset terkait pandemi Covid-19, terutama epidemiologi, pun dilakukan. Hasil riset jadi dasar pengambilan kebijakan dan edukasi warga, khususnya terkait pelaksanaan aturan pembatasan kegiatan masyarakat.
”Riset dan inovasi terkait optimasi hasil pangan, teknologi pascapanen, dan pengolahan pangan beserta diversifikasinya penting dikedepankan pada 2023,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan kewirausahaan ITB, R Sugeng Joko Sarwono, Rabu (23/11). Untuk bidang energi, riset inovasi energi baru dan terbarukan berbasis solar, arus sungai, dan laut diprediksi naik. Demikian pula inovasi teknologi alat transportasi listrik dan penunjangnya, mengingat pemerintah mendorong transisi dari kendaraan berbasis mesinpembakaran internal ke kendaraan listrik. Ketidakjelasan akhir pandemi membuat riset dan inovasi teknologi farmasi, khususnya obat dengan bahan baku dalam negeri serta obat herbal, juga akan berkembang. Riset alkes diyakini akan berkembang menggantikan alkes impor. Semua jenis riset dan inovasi yang makin berkembang tahun depan itu berbasis kecerdasan artifisial, mesin pembelajar, hingga mahadata. Karena itu, tersedianya sumber daya manusia bermutu bidang teknologi informasi akan makin penting. Dorongan inovasi ini guna memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. ”Untuk jadi negara maju pada 100 tahun kemerdekaannya tahun 2045, Indonesia harus meningkatkan pendapatan per kapita yang kini 4.000 USD menjadi 12.000 USD,” kata Gatot Dwianto, anggota Next Federation, lembaga pendorong integrasi dan transformasi sumber daya industri global. Lompatan pendapatan per kapita bakal terwujud jika pertumbuhan ekonomi didorong inovasi, tak hanya bertumpu pada ekspor komoditas. (Yoga)
Postingan Terkait
Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023