;

Peradaban Solidaritas

Peradaban Solidaritas

Setiap tahun, pada 17 Oktober, orang di seluruh dunia berkumpul untuk menegaskan kembali komitmen bersama demi mengakhiri kemiskinan global. ”Martabat untuk semua dalam praktik” adalah tema Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan 2022-2023. Martabat manusia dipandang bukan hanya hak mendasar itu sendiri, melainkan juga merupakan dasar dari semua hak mendasar lainnya, seperti  kebebasan, keadilan, dan perdamaian. Merujuk data PBB, saat ini di dunia, dengan sebagian orang hidup berkelimpahan, 811 juta orang tidak memiliki cukup makanan dan 44 juta berisiko mengalami kelaparan (sumber: WFP), 2 miliar orang masih hidup tanpa air minum yang aman, 3,6 miliar tanpa sanitasi yang dikelola dengan aman (sumber: WHO dan Unicef), serta 1,3 miliar orang masih hidup dalam kemiskinan multidimensi (sumber: UNDP) dengan hampir setengahnya adalah anak-anak dan remaja. Di Indonesia, BPS mencatat, pada Maret 2022 angka kemiskinan 9,54 % dari total penduduk atau sebanyak 26,12 juta orang, turun 0,17 persen dibandingkan September 2021, yakni 9,71 % atau 26,50 juta orang. Kendati menurun secara tahunan, jumlah orang miskin per Maret 2022 masih lebih banyak dibandingkan dengan sebelum pandemi.

Upaya-upaya mengubah kondisi kehidupan kaum miskin agar menjadi lebih baik adalah bagian dari penghargaan atas martabat manusia. Dalam falsafah kebangsaan dan dasar negara kita, dua sila merupakan basis kokoh untuk melihat betapa luhurnya kedudukan martabat manusia: kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila kedua dan kelima tersebut merupakan kerangka utama untuk membangun peradaban solidaritas manusia Indonesia. Kenyataan masih banyak orang yang terus hidup dalam kemiskinan menunjukkan perlunya membangun budaya solidaritas. Solidaritas terhadap kaum miskin merupakan tindakan atau kebijakan untuk memanusiakan masyarakat terpinggirkan dengan berfokus pada perspektif mereka, apa yang mereka alami, dan bagaimana memperbaiki kondisinya. Di tengah bencana alam dan perubahan iklim yang drastis, yang amat memukul kehidupan kaum miskin, perlu dibangun solidaritas dalam berbagai sektor. Peradaban solidaritas merupakan inti dari kerangka kemanusiaan. Perluasan solidaritas yang menembus batas muncul dalam bentuk tindakan-tindakan kemanusiaan untuk membantu mengurangi kesulitan orang-orang yang setiap hari berani berjuang meniti harapan dengan sumber daya terbatas untuk keluar dari lingkaran kemiskinan agar hidup bermartabat. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :