Merawat Kapur Barus yang Tergerus
Dari rumah dinas Wakil Bupati Pakpak Bharat Mutsyuhito Solin, tim sejarawan, dokter, sastrawan, dosen, dan peneliti dari sejumlah kampus dan lembaga penelitian menaiki beberapa mobil berpenggerak empat roda menelusuri jalan sepanjang 40 kilometer menuju hutan purba di sekitar Desa Sibagindar, Kecamatan Pagindar. Saat tiba di tujuan, Kepala Desa Sibagindar Sondang Manik sudah menunggu di pinggir hutan di sebuah gubuk dari kayu kapur yang disebut labah todung. Labah todung menjadi bukti peradaban pencari kapur sudah sangat tua di desa itu. Namun, beberapa puluh tahun terakhir, kapur sulit dicari. Pencari kapur memilih menjadi petani kelapa sawit dan padi. Hanya di Sibagindar, ratusan hektar hutan kapur ternyata masih terjaga.
Hutan itu didominasi pohon-pohon kapur meranti. Ada puluhan pohon kapur berdiameter 2,5 meter yang berusia 200-300 tahun. Pohon setinggi 60 meter itu lurus ke atas tanpa cabang dengan warna coklat dan bersisik. Beberapa batang pohon kapur besar tampak tumbang dan membusuk selama puluhan tahun. Sebagian pohon yang tumbang adalah bekas pengambilan kapur. Untuk mengambil kapur, batang pohon harus ditebang dan dibelah karena berada di tengah batang. Sondang menyebut, peradaban kapur hampir hilang. Satu-satunya yang tersisa adalah hutan kapur. Puluhan tahun lalu, hampir semua rumah di desanya berupa rumah kayu yang terbuat dari pohon kapur. Dinding dan atapnya pun dibuat dari kulit pohon kapur yang bisa tahan hingga 40 tahun.
Edi Cahaya Manik (50), warga Desa Sibagindar, sempat mencari kapur saat masih muda. Mereka biasanya berangkat lima orang untuk mencari kapur di tengah hutan selama dua minggu. Mereka membawa bekal dan mendirikan labah todung di tengah hutan. Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari, menyebut, penemuan hutan kapur dan peradaban pencari kapur sangat menakjubkan. Unimed sudah mencari hutan kapur sejak 2016. Namun, mereka hanya menemukan sekitar 20 batang di ladang warga di Desa Siordang, Kecamatan Sirandorung, Tapanuli Tengah, milik Jalungan Silaban. ”Siordang pun disebut sebagai rumah kapur barus terakhir.
Bupati Pakpak Bharat Franc Bernhard Tumanggor mengatakan, mereka akan merancang hutan kapur Pakpak sebagai destinasi wisata minat khusus. Di tengah temuan itu, lanjut Ichwan, gerakan penyelamatan hutan kapur terakhir itu harus dilakukan. Saat ini, luasan hutan kapur terus berkurang terimpit ekspansi kebun sawit. Masyarakat pun harus mendapat manfaat ekonomi dari hutan kapur agar bisa menjaganya. Jangan sampai hutan kapur Barus yang tersisa kembali tergerus. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023