Demam 2024
Pemilihan umum RI masih dua tahun lagi. Tetapi, sejak tahun lalu demamnya sudah marak. Gejala begini tidak baru. Juga tidak universal. Semangat berpolitik dibutuhkan demokrasi, asal tidak meluap jadi berlebihan, hingga nyaris pecah perang saudara. Panasnya suhu politik dua pemilu terdahulu (2014, 2019) berlanjut tahunan. Di sela-selanya ditambah panasnya pemilihan gubernur DKI Jakarta (2017). Dalam semua peristiwa itu, yang paling bersemangat bukan elite politik yang berebut jabatan, melainkan pendukung fanatic mereka. Banyak persahabatan hancur. Kerukunan keluarga jadi retak. Di Indonesia, pemilu seakan-akan menjadi pertarungan kekuatan ekstrem baik lawan ekstrem buruk. Disebut ”seakan-akan” karena kenyataan bisa sangat berbeda.
Setelah terpilih sebagai Presiden RI dan wakilnya (2019), Jokowi-Ma’ruf Amin mengajak pesaing mereka, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, bergabung dalam kabinet negara. Betapa mubazir persaingan dan kebencian antar pendukung mereka terdahulu yang sempat berbuntut huru-hara. Pihak yang kalah tidak menerima hasil pemilu. Kebencian antar kubu nyaris memecah keutuhan bangsa. Bukannya jera, gairah masyarakat umum tampaknya sudah terpacu menyambut Pemilu 2024. Seakan-akan hasil pemilu tidak penting. Agaknya berjuang habis-habisan mendukung elite dari satu kubu melawan elite kubu lain sudah cukup memberikan kenikmatan tersendiri. Mungkin karena semangat, gairah, dan tenaga di negeri ini berlimpah ruah. Perlu disalurkan. Pemilu 2024 masih dua tahun lagi tapi demamnya sudah marak. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023