Desa Pasca-Lebaran 2022
Mudik Lebaran 2022 ibarat hujan sehari yang membasahi kemarau dua tahun pandemic Covid-19. Namun, derasnya kesempatan itu terjadi mendadak, lagi singkat. Hanya desa-desa yang giat menyiapkan diri yang bisa memanen manfaat terluas. Pada 2020, warga yang mudik ke desanya 297.000 orang, tercatat uang beredar Rp 109 triliun. Artinya, hampir seluruh dana ditransfer pemudik tanpa bertatap muka di desa-desa. Adapun tahun ini, 85 juta pemudik membeludak ke desa-desa, sekaligus mengedarkan uang Rp 175 triliun. Tak sekadar mentransfer dana, pemudik bermalam di desa, membeli barang dari warung-warung, memanfaatkan beragam fasilitas wisata hingga kesehatan. Alhasil, dinamika ekonomi dan sosial desa melaju lebih riil. Selain program vaksinasi gencar yang dilakukan sejak awal pandemi, pada tahun ini kebijakan ekonomi pemerintah juga mendukung perayaan Lebaran, THR diberikan kepada semua pegawai negeri dan pensiunan, serta segenap pegawai swasta. Penyaluran BLT Rp 12,7 triliun menjelang Lebaran pun terbatas mengguyur warga miskin dan warga yang terdampak Covid-19. Maka, pemerintah berusaha menambah durasi dana beredar di desa, dengan membuka kesempatan cuti sebelum dan sesudah Lebaran.
Setelah dormansi sejak 2020, mulai Oktober 2021 BPS melaporkan penduduk mulai bergerak ke tempat rekreasi terdekat yang jaraknya terjangkau dan murah, ataupun ke taman-taman yang gratis. Merespons data itu, Kemendes PDTT menyiapkan aplikasi telepon seluler Desa Wisata Nusantara. Berbasis teknologi spasial, pemudik bisa mendapati desa wisata terdekat. Tersedia wisata budaya, sungai, gunung, pantai, religi, agrowisata, kuliner, dan edukasi. Saat ini, 769 BUMDesa wisata berpartisipasi mempromosikannya. Diperkirakan 5.037 wisata desa tersebar di seluruh Nusantara. Inilah mesin ekonomi desa yang harus segera digerakkan pasca pandemi. Selama Lebaran, BUMDesa bisa berperan menyalurkan modal bagi usaha industri rumah tangga agar mampu menyediakan beragam makanan dan minuman untuk parsel Lebaran, ataupun melengkapi warung-warung untuk memenuhi kebutuhan pemudik. BUMDesa juga mengelola wisata desa. Pemerintah desa dapat mendukung dengan menggerakkan padat karya tunai desa guna merehabilitasi jalan menuju lokasi wisata, membersihkan areal wisata, menyelenggarakan pelatihan, hingga menjual kerajinan warga di tempat wisata.
Desa Krandegan di Purworejo, Jateng, adalah contoh desa yang mampu memanfaatkan fenomena Lebaran untuk membuka komunikasi langsung, berdialog membicarakan potensi desa, sekaligus menawarkan investasi pemudik bagi desa. BUMDesa dapat mengolah kayu dan hasil hutan nonkayu skala kecil sesuai PP No 23 Tahun 2021. Selanjutnya, PPNo 29 Tahun 2011 juga membuka jalur bagi BUMDesa untuk berinvestasi mengelola pasar rakyat. PP No 30 Tahun 2021 mengizinkan BUMDesa menjalin kerja sama untuk pengelolaan terminal dan pengujian kendaraan bermotor. Pasca-Lebaran 2022 bakal membuktikan, geliat lebih cepat terjadi pada desa-desa yang sigap menangkap peluang momentum mudik warganya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023