;

Tantangan Produktivitas Padi Perlu Diatasi

Ekonomi Yoga 14 May 2022 Kompas
Tantangan Produktivitas Padi Perlu Diatasi

Sejumlah tantangan menghadang upaya peningkatan produktivitas padi. Di antaranya, masih rendahnya produktivitas padi di lahan kering dan rawa serta masih banyaknya  penggunaan pupuk anorganik. Di samping itu, tata kelola stok pangan secara menyeluruh juga perlu dibenahi agar tahan dalam menghadapi turbulensi global. Rachmat dari Direktorat Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan mengatakan, tantangan lainnya adalah laju penurunan produksi (leveling off) terkait sawah-sawah intensif dengan unsur hara yang terus tergerus. Alih fungsi lahan irigasi ke nonpertanian juga memengaruhi upaya untuk memperluas areal tanam atau mencari lahan perluasan. Menurut data Kementan, produktivitas padi pada 2021 sebesar 5,23 ton per hektar atau meningkat 1,9 % dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun luas panen padi pada 2021 mencapai 10,41 juta hektar atau menurun 2,30 % (245.470 hektar) dibandingkan luas panen padi pada 2020 yang 10,66 juta hektar. Upaya lainnya, adalah peningkatan Indeks Pertanaman (IP400) dengan tanam dan panen rata-rata empat kali dalam setahun pada lahan yang sama sesuai kondisi spesifik lokasi. Juga ada langkah percepatan pengolahan, penanaman, hingga panen, serta penggunaan varietas sangat genjah. Dengan demikian, di tengah turbulensi global, ketersediaan padi dan beras nasional bakal terus terjaga.

Dirjen Tanaman Pangan Kementan Suwandi menuturkan, sejak 2019 Indonesia tidak mengimpor beras umum. Jenis yang masih diimpor ialah beras khusus seperti untuk restoran Jepang, Pakistan, dan India. Pada 2018-2021, produksi beras surplus sekitar 2 juta ton. Oleh karena itu, ia meyakini, di tengah turbulensi global, produksi beras nasional terjaga. Ia pun mendorong setiap daerah untuk turut memperbanyak gudang-gudang pangan, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga RT-RW. Berbagai kearifan lokal dapat dikembangkan, seperti yang ditemukannya di Ngawi, Jatim, yakni pengering padi buatan sendiri yang harganya 70 % lebih murah dibandingkan di toko. Wakil Sekjen Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Lely Pelitasari Soebekty mengatakan, manajemen atau tata kelola stok harus dimulai dengan menyepakati neraca pangan secara nasional oleh seluruh pemangku kepentingan, contohnya neraca pangan yang sudah dibuat Badan Pangan Nasional. (Yoga)


Tags :
#Pertanian
Download Aplikasi Labirin :