Modal dan Peluang Ekowisata
Ekowisata seakan jadi jawaban atas krisis pandemi dan iklim global. Ekowisata dirancang sebagai bentuk perjalanan spesial untuk menikmati alam yang asli, unik, ramah lingkungan. Pembatasan pergerakan secara spasial dan naiknya temperatur Bumi tak menyurutkan animo dan kebutuhan orang untuk terus bersua dan dekat dengan alam, sebaliknya justru meningkat. Perjalanan warga AS ke surga destinasi ekowisata Puerto Riko naik 234 % per tahun.Jumlah ekowisatawan Eropa yang berburu destinasi karbon netral, Eslandia, naik 11 % per tahun. Destinasi ekowisata kita, Taman Nasional (TN) Komodo, menerima 221.000 wisatawan pada 2019 meski anjlok menjadi 51.000 tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Tahun 2019 industri ekowisata seluruh dunia menghasilkan devisa 181 miliar USD, equivalen 11,3 % total devisa semua sektor pariwisata tahun 2020. Dengan pertumbuhan 14,3 % per tahun, devisa tersebut akan mencapai 333,8 miliar USD pada 2027.
Fakta itu menegaskan ekowisata menjadi tren model perjalanan liburan yang diminati.Di sinilah peluang besar terbuka bagi Indonesia, yang menempati posisi kedua terkaya di dunia sebagai pemilik biodiversitas. Tak kurang dari 60 % terumbu karang di dunia ditemukan di sini. Bahkan 10 % jenis tumbuhan, 12 % spesies mamalia, 16 % spesies reptil, dan 17 % spesies unggas di planet Bumi ini memusat di wilayah Nusantara. Ribuan spesies ikan air tawar ikut menghiasi kekayaan alam negeri. Keunikan, orisinalitas, dan sifat naturalnya menyatu menjadi atraksi yang sulit diabaikan wisatawan. Dalam jarak setiap 100 kilometer saja keunikan alam mudah ditemukan dan berjejer seakan mata rantai yang tak pernah putus. Lelah dari aktivitas di pegunungan, pantai dan marina siap menyambut dengan pemandangan bawah laut mengagumkan. Hutan kita bukan hanya luas, juga kaya akan jenis flora dan fauna yang bisa dikemas jadi ajang berbagai aktivitas ekowisata. Mayoritas penikmat atraksi alam itu pemilik kantong tebal (high end-user) dari sejumlah negara. Bukan hanya dengan tarif mahal per hari, masa tinggal mereka juga lebih panjang daripada wisatawan biasa.
Tarif snorkeling di Raja Ampat dipatok 1.890 USD per orang selama tujuh hari. Pangsa pasar kalangan mlenial dalam ekowisata semakin besar, menyalip generasi baby boomer. Karakter dan selera mereka unik, misalnya menikmati hal-hal baru atau berbeda untuk meraih pengalaman bermutu. Karena itu, mereka lebih suka bepergian ke destinasi alternatif dan masih ”asli”. Budaya lokal dan peluang membuka persahabatan dengan warga setempat jadi dambaan. Daripada resor mewah gemerlapan, lokasi yang masih alami dan menawarkan pengalaman baru dan berkualitas lebih menarik mereka. Dengan ekowisata kita merawat alam, menyehatkan rasa dan raga, pun memastikan penghidupan berdurasi panjang. Karena itu, pengembangannya perlu ditempatkan dalam skala prioritas nasional hingga lokal. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023