;
Tags

Kopi

( 64 )

Kopi Kuningan Diincar Kedai dan Eksportir

KT3 24 Feb 2023 Kompas

Kopi Kabupaten Kuningan, Jabar, di incar pemilik kedai dan eksportir. Dalam acara ”Coffee Cupping Test” di Rumah Kopi Linggasana, Kuningan, Kamis (23/2) cita rasa kopi Kuningan diuji. Titi Nuryati, pendiri Kelompok Tani Sekarmanik Sejahtera di Cibeureum, mengatakan, pekan lalu, ia menjual kopi robusta bubuk sekitar 10 kg ke Turki seharga Rp 150.000 per kg. Padahal, biasanya maksimal Rp 120.000 per kg. (Yoga)

Edi Azhari Memanggungkan Kopi Tangse

KT3 23 Feb 2023 Kompas

Kopi dari Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, belum setenar kopi dari Gayo, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kopi Tangse kian populer. Usaha Edi Azhari (41) dan para petani perlahan berbuah hasil. ”Kopi Tangse pernah populer. Karena konflik, banyak petani tidak sempat merawat kebun. Namun sekarang, kami kembali fokus merawat kopi,” ujar Edi, Kamis (2/2) saat ditemui di kedai kopi miliknya di Tangse, sebuah kecamatan di Pidie, 60 km dari pusat Kota Pidie. Tahun  2015 hingga 2017, Edi mulai serius belajar tentang kopi.Bolak-balik Tangse ke Takengon, Aceh Tengah. Dia belajar cara budidaya, pengolahan pascapanen, hingga ilmu barista. Merasa sudah cukup mumpuni ilmu tentang kopi, Edi bersama dua teman patungan membuka kedai kopi di pusat kota Tangse. Di kedai yang diberi nama H2E Kopi itu mereka menjual beragam kopi, seperti liberika, robusta, dan arabika. Edi menginginkan kedai itu tidak hanya tempat jualan, tetapi juga menjadi ruang bersama belajar kopi. Edi dengan tekun menjelaskan tentang kopi Tangse kepada tamu yang datang.

Sejarah kopi Tangse dari hulu ke hilir telah dikuasai. Sebuah mesin sangrai (roasting) hibah dari Pemkab Kabupaten Pidie dia letakkan di dekat dapur racik agar para pengunjung juga bisa melihat pengolahan kopi. Semua kopi di kedainya adalah hasil produksi petani Tangse. Edi menampung biji kopi mentah atau green bean dari petani di sana. Edi memiliki petani binaan dan membeli lebih mahal dari harga pasaran. Robusta Rp 35.000 per kg dan liberika Rp 33.000 per kg. Uniknya di kedai H2E tidak menyajikan kopi saring, tetapi pakai mesin espreso. Padahal, biasanya di Aceh, kopi robusta dan liberika disajikan dengan cara disaring. Adapun kopi arabika jamak disajikan dengan mesin espreso. Edi juga memproduksi bubuk kopi. Pada kemasan ditulis ”Kopi Tangse” premium, ini bagian usaha Edi memopulerkan kopi Tangse. Penjualan juga dilakukan melalui toko dalam jaringan. membuahkan hasil. Belakangan kopi Tangse mulai  dihadirkan dalam pameran kopi tingkat provinsi dan nasional. Selain itu, beberapa kali Edi jadi dewan juri lomba kopi. Edi membuka jaringan ke pasar nasional dan internasional. Tahun lalu dia mengirimkan contoh kopi liberika ke Malaysia. Pembeli di sana meminta persediaan 10 ton per tiga bulan, tetapi Edi tidak menyanggupi karena belum sanggup menjamin kualitasnya. (Yoga)


Nilai Ekonomi Padi dan Kopi Hilang Rp 42 Triliun

KT3 24 Nov 2022 Kompas

Dampak perubahan iklim membuat lahan pertanian tidak dapat ditanami kopi dan beras sehingga mengganggu kebutuhan masyarakat Indonesia. Perubahan iklim juga berpotensi menghilangkan nilai  ekonomi komoditas beras dan kopi hingga lebih dari Rp 42 triliun per tahun. Demikian rangkuman hasil penelitian skala nasional terbaru bertajuk ”Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian Indonesia: Fokus Komoditas Padi dan Kopi”. Penelitian dilakukan oleh Edvin Aldrian dan Elza Surmaini,  tim pakar iklim dan meteorologi BRIN serta beberapa tim lainnya. Penelitian itu mengungkap, perubahan iklim akan mengurangi produktivitas komoditas kopi dan beras. Hasil penelitian menemukan bahwa Indonesia dapat kehilangan nilai ekonomi produksi padi rata-rata Rp 42,4 triliun per tahun pada 2051-2080. Kehilangan ini bahkan akan meningkat menjadi Rp 56,45 triliun per tahun pada 2081-2100. Kerugian serupa juga ditemukan akibat kehilangan nilai ekonomi produksi kopi arabika sebesar rata-rata Rp 3,9 triliun per tahun pada 2051-2080. Kehilangan diproyeksikan akan kembali meningkat sebesar Rp 6,8 triliun per tahun pada 2081-2100.

”Ini merupakan masalah serius yang harus diatasi sesegera mungkin sebelum dampaknya memunculkan efek domino yang lebih buruk di masa depan,” ujar Edvin yang juga Wakil Ketua Kelompok Kerja I Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dalam siaran pers, Rabu (23/11). Laporan itu juga menunjukkan, 63-100 % lahan yang saat ini dapat ditanami kopi arabika tidak akan lagi sesuai untuk budidaya. Sementara produktivitas padi nasional turun hingga 8 juta ton pada 2100 atau setara  kebutuhan beras untuk 42 juta jiwa. Gangguan untuk menanam kopi arabika terjadi akibat panjang bulan kering yang penting dalam proses pembentukan bunga. Sementara dampak perubahan iklim terhadap lahan persawahan terjadi karena meningkatnya kadar garam atau salinitas akibat kenaikan muka air laut yang sudah dipastikan menurunkan produksi beras. Kajian ini menggunakan dua skenario kenaikan muka air laut untuk menghitung dampaknya terhadap produktivitas beras di Indonesia. Hasilnya, berkurangnya lahan sawah akan menurunkan produksi beras sebesar 3,5 juta ton tahun 2100 atau setara pemenuhan konsumsi beras 17,7 juta orang. (Yoga)


Kopi Semendo ala ”Budak Mudo”

KT3 12 Aug 2022 Kompas (H)

Secangkir kopi Semendo berkelas premium tercipta dari tangan kreatif generasi muda di Palembang, Sumsel. Dibalut hasrat kuat dan pemikiran terbuka, mereka membenahi tata niaga kopi. Barista sekaligus pemilik Anestic Coffee Palembang, Rangga Munggaran (35), cekatan membuat segelas kopi latte, Rabu (10/8). Minuman itu terdiri dari espresso hasil olahan 16 gram bubuk kopi perpaduan kopi arabika Semendo  dengan komposisi 60 % dan kopi robusta Pagar Alam 40 %. ”Untuk mendapatkan rasa yang diinginkan, perlu eksperimen berkali-kali,” ujar pemuda yang juga Ketua Barista Street League Palembang itu.

Hasrat mengutak-atik resep dengan bahan baku kopi dari Sumsel, terutama kopi Semendo, dilakukan untuk semakin mengenalkan kopi Semendo kepada masyarakat Palembang. Kopi Semendo mulai dikenal sejak 2017 saat beberapa pegiat kopi mengikutkannya di sejumlah kontes kopi dan hasilnya cukup memuaskan. Kopi berasal dari tiga kecamatan di Kabupaten Muara Enim, 270 kilometer dari Palembang, yakni Kecamatan Semende Darat Laut, Semende Darat Tengah, dan Semende Darat Ulu.

Robusta Semendo mendapat sertifikat indikasi geografis dari Ditjen Merek dan Kekayaan Intelektual Kemkumham tahun 2015. Cita rasa kopi Semendo tidaklah berbeda dengan kopi Gayo dari Aceh. ”Ketika menyeruput kopi Semendo, akan terasa aroma rempah yang kuat perpaduan antara pala, kayu manis, dan citrus,” ujar Rangga. Cita rasa itu terus dikenalkan ratusan anak muda barista di Palembang agar identitas kopi Semendo semakin dikenal. Karena itu, edukasi komprehensif kepada para barista sangat dibutuhkan agar keunggulan kopi Semendo dan kopi asal Sumsel lainnya bisa tersampaikan dengan baik kepada penikmat kopi. (Yoga)


Kopi Ngada Terjual Rp 577.000 Per Kilogram

KT3 14 Feb 2022 Kompas

Marselina Walu (43), perempuan petani kopi dari NTT, berhasil menjual Arabica Ngada senilai Rp 577.000 per kilogram dalam lelang internasional Cup of Excellence 2022 pada 27 Januari lalu. Sebanyak 217 kg kopi miliknya dibeli pengusaha dari Jepang. ”Dari NTT hanya satu peserta, saya sendiri yang memenangi lelang kopi internasional itu,” katanya, Minggu (13/2). (Yoga)


Holding Perkebunan Masuki Bisnis Jual Minyak Goreng, Gula, hingga Kopi

Sajili 18 Aug 2021 Sinar Indonesia Baru

Holding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) serius terjun ke bisnis ritel. Hal itu dilakukan untuk memenuhi ketersediaan bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat dengan harga terjangkau dan kualitas premium. Keseriusan perusahaan masuk ke bisnis ritel ditandai dengan peluncuran brand Nusakita dalam produk minyak goreng, gula pasir, teh dan kopi.

Direktur Utama PTPN III Muhammad Abdul Ghani mengatakan, langkah hilirisasi ini merupakan upaya untuk menjaga ketahanan pangan.

Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara Dwi Sutoro mengatakan, Nusakita hadir dalam beragam produk seperti minyak goreng, gula, kopi dan teh. Produk-produk tersebut diproduksi dengan tata kelola yang ramah lirigkungan.

Produk Nusakita akan didistribusikan secara nasional. Untuk tahap awal akan tersedia di area Sumatera Utara (Medan) dan Jabotabek pada September-Desember 2021. Produk ini dipasarkan dengan menggandeng distributor CV Cipta Usaha Nagari dan dua perusahaan startup yakni Tanihub dan Warung Pintar. Distribusi produk ini juga akan bekerjasama dengan perusahaan pelat merah lain.

Dari sisi produksi, PTPN Group lebih fokus pada produk minyak goreng yang diproduksi oleh anak perusahaan yaitu PT Industri Nabati Lestari (INL), Lalu, untuk gula pasir diproduksi oleh berbagai anak perusahaan yang berbisnis tebu atau gula dari kebun milik PTPN Group.


Berdayakan Masyarakat , UMKM Pasarkan Kopi Pengalengan Sampai ke AS

Sajili 03 Aug 2021 Sinar Indonesia Baru

Pengalengan merupakan salah satu daerah penghasil komoditas kopi di Jawa Barat. Sejumlah masyarakat di sana menggantungkan hidup sebagai petani atau pekerja di perkebunan kopi.

Melihat adanya potensi ekonomi yang menjanjikan dari Industri pengolahan kopi, Wildan Mustofa memilih menekuni bisnis tersebut sejak 2012 dengan membuat badan usaha CV Frinsa Agrolestari Wildan memasarkan biji kopi green bean dari Pangalengan dengan merek Java Frinsa.

la melakukan riset untuk menemukan metode produksi yang paling baik untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi. Saat ini, ada 10 varietas kopi Pangalangan yang diolah menjadi green bean oleh Java Frinsa.

Kopi green bean Java Frinsa diperoleh setelah lima tahap pengolahan kering dan 11 tahap pengolahan basah Produk kopi green bean tersebut dipasarkan ke berbagai negara, di antaranya Australia, Norwegia, Amerika Serikat, dan China.

Wildan turut memberdayakan para petani kopi di lingkungannya untuk memenuhi permintaan pasar. Saya memberikan deposit untuk petani dan kemudian nantinya petani akan menanam kopi sesuai pesanan.


Kopi Luwak Tembus Rp 1 Juta Per Kilogram

Sajili 15 Jul 2021 Banjarmasin Post

Selain harga kopi di pasaran yang cukup stabil green bean (beras kopi) di harga Rp 50 ribu per kilo. Ada kopi yang harganya spesial dan mahal yakni, kopi luwak. Untuk kopi luwak di Kalsel harga pasaran yakni Rp 1 juta.

Bahkan, direncanakan kebun edukasi kopi yang dikelola oleh Biji Kopi Borneo kedepan dikonsep lebih bagus lagi, dengan dilengkapi hewan Luwak dan kandangnya, serta dilengkapi beberapa gazebo.

Dia juga berambisi untuk mengembangkan kopi di Kalsel untuk bisa masuk museum rekor dunia atau museum rekor Indonesia yang mana dalam satu kawasan ada empat jenis tanaman kopi yang terintegrasi.


Harga Kopi Green Bean Masih Stabil

Sajili 14 Jul 2021 Banjarmasin Post

Bisnis kopi kini sedang bagus-bagusnya. Harganya stabil di posisi Rp 50 ribu per kilogram. Menurut Founder Biji Kopi Borneo, Dwi Putra Kurniawan, harga itu adalah harga kopi dalam bentuk atau jenis Green Bean atau masih beras kopi.

"Jika sudah diolah, pastinya akan lebih mahal dari itu, " kata pria yang juga ketua Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Kalsel itu. Dijelaskan dia, saat ini, dirinya dan tim menggerakkan sektor ekonomi di bidang bisnis kopi dan sektor pertanian kopi.

Kopi yang kami kembangkan di Kalsel ada empat jenis yaitu, pertama. Kopi Liberika yang ada di Tanahlaut, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Hulu Sungai Tengah dan rencana juga dikembangkan di Barito Kuala.

Dari semua jenis kopi, kemudian digarap dengan tim petani lokal dengan pola kerja sama. Kedepan kami akan mencoba mencatatkan rekor MURI terhadap pengembangan kopi empat jenis sekaligus di sebuah Kota Banjarbaru atau Kebun Kopi Edukasi dan Kabupaten HST.

Kepala Bappeda Kalsel, Fajar Desira mendukung petani kopi di Kalsel ini dikembangkan. Sebab, menurut Fajar kopi ini punya potensi dikembangkan di Kalsel. Apalagi di sektor kopi liberika yang bisa tumbuh di rawa.


LPER Sumut: Kopi Produk Unggulan Sumut Penyumbang Ekonomi Transaksi Rp 4,5 Triliun/ Tahun

Sajili 05 Apr 2021 Sinar Indonesia Baru

Berdasarkan hasil Webinar LPER (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) Sumut, kopi yang merupakan produk unggulan pertanian di daerah ini, ternyata penyumbang ekonomi sangat besar untuk Indonesia dengan nilai transaksi Rp4,5 triliun/tahun.

Petani kopi Sumut ini tersebar di sejumlah kabupaten yakni Karo, Dairi, Humbang, Taput, Simalungun dan Toba.

Berkaitan dengan itu, tambah mantan Ketua GAMKI Sumut ini, kopi sebagai komoditi unggul pertanian. Dalam hal ini, LPER Sumut diharapkan segera mengedukasi petani dan pelaku usaha serta mendorong pemerintah mempermudah regulasi ekspor-impor sekaligus memberi perhatian permodalan dan peningkatan SDM.