Kopi
( 64 )Saatnya Petani Gembira Memetik Tebalnya ”Cuan” Kopi Robusta
Harga kopi robusta di Tanah Air menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Buah kopi dipetik dengan antusias oleh petani karena tebalnya ”cuan”. Rabu (3/7) ratusan warga bersiap memasukkan buah merah kopi dari karung ke mesin pengupas kulit. Rumah-rumah panggung berjejeran dipenuhi hamparan biji kopi yang dijemur di halaman rumah. ”Kalau harga kopi tinggi, bangga juga dibilang anak petani kopi,” ucap Muhammad Pesi (65).. Petani di Desa Kota Besi, Lampung Barat, bersama istrinya, Mazni(64), anak, menantu, dan cucu memetik buah kopi. Pesi mengatakan, harga kopi tahun ini adalah harga tertinggi yang pernah ia rasakan selama menjadi petani.
Biji kering kopi robusta asalan Rp 70.000-Rp 75.000 per kg dan biji kering kopi robusta petik merah Rp 100.000-Rp 120.000 per kg. Ia telah menjual biji kopi 550 kg dan mengantongi uang Rp 50 juta. Pesi memperkirakan bisa mendapat 1,4 ton biji kopi dari 1.750 pohon kopi di kebun seluas 2 hektar. Semarak dirasakan di kebun hingga pasar. Hiruk-pikuk warga memanggul karung kopi, membolak-balik kopi di pengeringan, hingga menjual kopi ke lapak. Jalan lintas barat Sumatera yang biasanya lengang kini padat oleh truk dan pikap mengangkut kopi. Geliat kopi juga terasa di sentra kopi robusta di Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam, dan Kabupaten Empat Lawang, Sumsel. ”Sekarang, di mata kami, buah kopi di pohon adalah lembaran uang sedang menempel di pohon,” ujar Novian Fazli (50), pemilik kebun kopi seluas 1,5 hektar di Kecamatan Pagar Alam Utara.
Terlambat panen kopi ibarat ”maut” bagi petani karena saat ini rawan pencurian. Kebun Novian tak luput dari incaran pencuri. ”Jumlah kopi yang dicuri 80 kg, nilai kerugiannya Rp 5 juta,” katanya. Demi menjaga kebun, Juhairi (41), petani lainnya, tinggal di pondok yang ada di tengah kebun bersama keluarga. Ia menggarap kebun 3 hektar di Kecamatan Dempo Selatan dengan sistem bagi hasil. Ia baru menjual 327 kg biji kopi kering di gudang kopi dengan harga Rp 70.500 per kg, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar sekolah anak-anak, hingga melunasi utang. Padahal tahun lalu, rata-rata petani kopi hanya mendapat 300-600 kg kopi per hektar dengan harga jual Rp 30.000-Rp 40.000 per kg. Sumsel dan Lampung merupakan daerah penghasil kopi robusta terbesar di Tanah Air. (Yoga)
Harga Kopi Pecah Rekor, Waktunya Benahi Tata Kelola
Akibat pasokan kopi asal Brasil dan Vietnam menurun, permintaan kopi robusta Nusantara melonjak pada masa panen kali ini. Harganya pun melambung, bahkan mencapai titik tertinggi. Kondisi ini dinilai jadi momentum membenahi tata kelola komoditas kopi Tanah Air agar semakin diakui dunia. Sejumlah petani kopi di Kota Pagaralam, Kabupaten Muaraenim, dan Kabupaten OKU Selatan, Sumsel, Rabu (12/6) menyatakan, harga kopi robusta membubung tinggi. Biji kopi petik merah laku dijual Rp 100.000-120.000 per kg. Angka ini merupakan rekor tertinggi harga robusta di wilayahnya. Adapun biji dari buah campur asalan (tidak semua petik merah) berkisar Rp 70.000-Rp 72.000 per kg, harga tertinggi untuk kelas asalan.Kenaikan harga biji kopi disambut gembira oleh para petani. Pasalnya, kenaikan itu mencapai dua kali lipat dibanding tahun lalu.
Harga kopi robusta asalan tahun lalu hanya berkisar Rp 30.000- Rp 40.000 per kg, sementara biji kopi petik merah masih sekitar Rp 45.000 per kg. Sementara harga kopi jenis arabika saat ini cenderung stabil, yakni yang asalan kurang lebih Rp 80.000 per kg dan petik merah Rp 120.000-Rp 130.000 per kg. ”Harga kopi robusta saat ini menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah,” kata Ketua Dewan Kopi Indonesia Sumsel Zain Ismed. Tingginya harga biji kopi bisa menjadi pisau bermata dua. Euforia dapat memacu petani yang ingin mendapatkan uang cepat untuk petik asalan. Hal ini berisiko terhadap citra kopi Sumsel. Kalau kualitas diabaikan, kopi Sumsel bakal tetap dinilai buruk oleh pembeli. Zain mengingatkan petani dan pemerintah agar berhati-hati dalam menyikapi fenomena membubungnya harga kopi saat ini. Petani harus tetap mengutamakan kualitas panen guna menjaga kepercayaan pembeli. Pemerintah pun tidak boleh lepas tangan untuk mengingatkan dan memberdayakan petani. (Yoga)
Pencurian Kopi di Gayo Meresahkan Warga
Pencurian kopi milik petani dan pedagang di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Aceh, menimbulkan kegelisahan publik. Persoalan sosial dan ekonomi dinilai menjadi pemicunya. Reje atau Kades Paya Tumpi Baru, Takengon, Aceh Tengah, Idrus Saputra.pada Sabtu (8/6) menuturkan, pencurian kopi membuat warga gelisah. Sebab, kopi merupakan sumber penghidupan warga setempat. Idrus pernah menjadi korban pencurian. Pada 25 Mei 2024, sekitar 100 kg kopi miliknya yang disimpan di halaman raib digondol maling. Beberapa warga di desa itu mengalami kejadian serupa. ”Harga kopi sedang mahal, penjualan kopi juga mudah,” kata Idrus. Menurut Idrus, beberapa warganya juga mengalami peristiwa yang sama. Kopi yang disimpan di pekarangan rumah dicuri. Bahkan, beberapa petani kehilangan kopi di kebun. Buah kopi yang sudah masak dipetik pencuri.
Petani melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Sementara di Desa Paya Tumpi, warga telah sepakat untuk memasang kamera pemantau (CCTV). Bener Meriah dan Aceh Tengah merupakan sentra produksi kopi gayo. Sebagian besar warga di dua kabupaten itu bergantung hidup dari kopi. Kopi gayo jenis arabika umumnya diekspor ke luar negeri, sedangkan robusta banyak dipasarkan di dalam negeri. Ilham, warga Desa Kebet, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah, juga pernah kehilangan 60 kg kopi yang sedang dijemur di pekarangan rumah. Pencuri terekam di kamera pemantau. Namun, sang pencuri tidak tertangkap hingga kini. Harga kopi arabika gayo biji hijau (green bean) di tingkat petani mencapai Rp 90.000 per kg, sedang jenis robusta harganya Rp 60.000 per kg di tingkat petani di daerah itu. Hingga kini, harga kopi gayo di pasar dunia termasuk yang paling tinggi. (Yoga)
Abdul Rahim, Dari Penghijauan hingga Kopi
Abdul Rahim tak hanya menjadi barista di kafe kecil miliknya. Dia juga pedagang kopi dan rutin mengirim kopi ke sejumlah kota hingga ke negara lain, juga membina petani kopi dan ikut andil dalam pengembangan desa wisata di lereng Gunung Latimojong, Enrekang, Sulsel. Saat bencana, Rahim rela menutup kafe, menjadi sukarelawan. Saat banjir bandang menerjang Enrekang April lalu, kafenya bahkan menjadi pengungsian warga yang rumahnya terdampak banjir. Bermula pada 2008, dia melihat hutan di lereng Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang ditanami kopi oleh warga, yang mengorbankan pohon besar atau hutan. Dia terusik. Perlahan dia melakukan pendekatan kepada warga hingga membentuk kelompok penyuluh kehutanan swadaya masyarakat. Bersama sejumlah warga,
Rahim aktif melakukan sosialisasi dan edukasi serta mendorong penanaman kembali hutan-hutan yang sudah ditebang, yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung tanaman kopi. Saat program penghijauan berjalan tahun 2008, Latimojong sudah ramai jadi tujuan wisata minat khusus oleh pencinta alam. ”Saya mengajak warga duduk bersama, lalu membicarakan soal memungut retribusi masuk bagi setiap pengunjung. Dengan cara itu, mereka bisa mendapat nilai tambah destinasi wisata di wilayah mereka dan membuat mereka membenahi desa dan tak lagi menebang pohon di hutan,” katanya akhir April lalu. Sejak 2011 retribusi masuk ke Latimojong mulai berlaku, hasilnya kembali pada desa dan dikelola untuk kepentingan warga. Wisatawan pun tak merasa diberatkan karena nominalnya tidak besar.
Pembenahan terus dilakukan. Obyek-obyek wisata baru bermunculan. Bahkan, atraksi wisata, seperti arung jeram, dikembangkan oleh pemuda desa, yang berujung masuknya Latimojong dalam deretan desa wisata dan mendapat Anugerah Desa Wisata Indonesia. ”Desa wisata jalan. Petani kopi tetap menikmati hasil dari kopi, bahkan berlomba menghasilkan tanaman kopi terbaik karena kopi sudah jadi bagian dari wisata,” katanya. Perhatian Rahim pada soal lingkungan dan penghijauan mendapat penghargaan sebagai Juara Harapan Terbaik Wanalestari mewakili Sulsel, yang diterima di Istana Negara tahun 2012. Tahun 2016 pejabat Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Bandung berkunjung ke Enrekang, menawari Rahim ikut pelatihan barista di Bandung. Setelah lulus ia mengirim 30-an pemuda untuk dilatih tentang kopi dan menjadi barista.
Pelatihan yang tak pernah dipikirkan atau direncanakan ini membuat Rahim akhirnya benar-benar terjun ke kopi. Dia belajar seluk-beluk kopi dan membentuk kelompok petani binaan. Dia juga merintis kafe kecil yang awalnya menempati sebuah rumah kontrakan dan akhirnya mulai berdagang kopi. Tak sekadar berdagang, ia mengajak petani bekerja sama. Petani tetap rutin diikutkan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas. Dia membentuk kelompok binaan dan mencari pasar lebih luas. Jenama untuk kopinya dinamai Kopi Asik, bermakna Arabika Kalosi Enrekang dan menikmati kopi dengan asik. Sejak 2018 usahanya mendapat pendampingan BI dan kini menjadi salah satu binaan unggulan. Selain rutin membawa kopiEnrekang dalam berbagai pameran, dia juga tetap berusaha memperluas jaringan. Tujuannya kelak di Enrekang ada industri berbasis kopi. (Yoga)
Proyeksi Produksi Kopi Indonesia
Petani terlihat sedang mengeringkan biji kopi arabika di kaki Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/5/2024). Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia memproyeksikan produksi kopi nasional pada tahun 2024 akan turun yang diakibatkan produksi kopi di dataran rendah melemah serta minimnya carry over stock dari tahun 2023. (Yoga)
Persaingan Jaringan Kafe Kopi Lokal dan Internasional Makin Ketat
Bisnis jaringan minuman kopi lokal dengan jaringan kopi internasional kini semakin ketat bersaing, dipicu meningkatnya daya beli masyarakat yang mendorong permintaan minuman kopi yang lebih berkualitas dan punya nilai tambah. Insights Lead di firma riset dan venture builder Momentum Works, WeiHan Chen, Minggu (12/5) di Jakarta, mengatakan, kebiasaan minum kopi sudah ada di sebagian besar negara Asia Tenggara, yang juga produsen kopi terbesar di dunia, khususnya kopi robusta. ”Meningkatnya daya beli konsumen secara umum, lalu ditambah minum kopi, sudah jadi kebiasaan, mendorong permintaan minuman kopi yang lebih ’premium’ lewat jaringan gerai minuman kopi modern,” ujar Chen. Dalam laporan riset Momentum Works berjudul ”Coffee in Southeast Asia” (November 2023), pangsa pasar minuman kopi modern di Asia Tenggara diperkirakan mencapai 3,4 miliar USD.
Setidaknya ada tujuh merek bisnis jaringan minuman kopi modern, baik lokal maupun asing, yang sekarang dinilai sebagai pemain terbesar di Asia Tenggara. Pertama, Café Amazon yang sudah beroperasi di empat negara ASEAN dan memiliki lebih dari 3.900 gerai minuman kopi. Kedua, Starbucks yang hadir di enam negara ASEAN dan mempunyai lebih dari 2.000 gerai minuman kopi. Ketiga, Dunkin yang mempunyai lebih dari 1.300 gerai minuman kopi. Keempat, Inthanin memiliki lebih dari 1.000 gerai minuman kopi di Thailand. Kelima, Janji Jiwa hadir di Indonesia dengan 900 gerai minuman kopi. Kopi Kenangan yang beroperasi di tiga negara ASEAN dan memiliki lebih dari 800 gerai minuman kopi.
Terakhir, Highlands Coffee hadir di dua negara dan mempunyai lebih dari 700 gerai minuman kopi. Chen mengatakan, Indonesia dan Thailand masih merupakan pangsa pasar minuman kopi modern yang terbesar di Asia Tenggara. Riset Momentum Works memperkirakan, tahun lalu, pangsa pasar minuman kopi modern di Indonesia menyentuh 947 juta USD, sedang di Thailand 807 juta USD. Pangsa pasar sebesar itu sebagian besar didorong oleh perluasan bisnis jaringan minuman kopi modern yang dimiliki oleh pemain lokal. ”Sebagian besar bisnis jaringan minuman kopi modern yang dimiliki pemain lokal menawarkan harga yang masih jauh lebih murah dibandingkan dengan pemain internasional. Akibatnya, konsumen sering kali lebih mau membeli dari gerai-gerai lokal,” katanya. (Yoga)
Produsen Terbesar, Sumsel Dorong Kopi Mendunia
Kopi asal Sumsel dianggap masih asing di kalangan penikmat kopi Indonesia. Pembenahan dari hulu hingga hilir diperlukan untuk mempertahankan status sebagai produsen kopi terbesar di Tanah Air sekaligus mendorong kopi Sumsel mendunia. Pj Gubernur Sumsel Agus Fatoni dalam acara Morning Coffee dan Launching Kopi Sumsel di Palembang, Sumsel, Minggu (12/5) mengatakan, data statistik menunjukkan Sumsel adalah produsen dan pemilik lahan kopi terbesar di Indonesia. Sebagian besar kopi Sumsel berjenis robusta. Berdasarkan data BPS yang dirilis 30 November 2023, produksi kopi Sumsel 208.043 ton, setara 26,85 % total produksi nasional yang mencapai 774.961 ton. Produksi kopi Sumsel lebih tinggi dibandingkan Lampung yang berada di urutan kedua produsen kopi nasional, di 14,68 %.
Merujuk data ”Peta Areal Perkebunan Kopi Indonesia 2022” yang dirilis BPS, luas lahan kopi Sumsel 267.245 hektar dari total luas total lahan kopi Indonesia yang sekitar 1,265 juta hektar. Sumsel memiliki lahan jauh lebih besar dibandingkan dengan Lampung (155.170 hektar) dan Aceh (114.020 hektar). Lanjut Agus, masyarakat Sumsel tak boleh berpuas diri. Semua pihak perlu berjuang membawa kopi lebih diminati di pasar global, di antaranya dengan membenahi kualitas produksi mulai dari hulu hingga hilir. Agus menambahkan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas produksi di hulu. Salah satunya melalui bantuan peremajaan pohon kopi dengan teknik sambung pucuk, yang dilakukan terhadap 1 juta pohon di Pagaralam yang dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbaik di Sumsel.
Ketua Kadin Sumsel Affandi Udji mengatakan, pihaknya sangat mendukung rencana Pemprov Sumsel meningkatkan kualitas kopi Sumsel agar bisa mendunia. Kopi merupakan komoditas utama masyarakat Sumsel, dengan harga di tingkat petani Rp 50.000 per kg. Di tingkat pengecer, harganya Rp 70.000 per kg. Salah satu bentuk dukungan Kadin Sumsel, ditunjukkan melalui acara Morning Coffee dan Launching Kopi Sumsel. Pemilik Kisam Musi Jaya (KMJ) Coffee, Marlio Andriansi, yang ikut memeriahkan acara Morning Coffee dan Launching Kopi Sumsel, mengatakan kopi asalan mentok di harga Rp 70.000 per kg. Padahal, jika petani mau bersabar dengan menjaga kualitas, kopi itu bisa dijual dengan harga Rp 100.000 per kg. Bahkan, untuk kopi arabika berkualitas, harganya mencapai Rp 150.000 per kg. Empat tahun terakhir, pangsa pasar kopinya meluas. Bukan hanya di dalam negeri, khususnya di Palembang, Jakarta, dan Bandung, kopinya, mulai merambah pasar internasional, seperti, China, Korea, dan Uni Emirat Arab. (Yoga)
Harga Kopi Robusta Melonjak, Pesanan Meningkat
Menjelang panen raya, harga kopi robusta di Lampung melonjak.
Petani menerima banyak permintaan kopi, tidak hanya dari berbagai kota, tetapi
juga luar negeri. Danuri (60), petani kopi Desa Way Harong, Tanggamus, Lampung,
mengatakan, harga biji beras kopi atau green bean jenis robusta ditingkat
petani Rp 55.000-Rp 60.000 per kg, naik dua kali lipat dibandingkan panen tahun
lalu, Rp 35.000 per kg. Pada panen sebelumnya, biji kopi asalan Rp 20.000-Rp
25.000 per kg. ”Kami baru merasakan harga kopi bisa menembus Rp 60.000 per kg
tahun ini. Semoga harganya tetap stabil sampai masa panen raya bulan depan,”
kata Danuri saat dihubungi dari Bandar Lampung, Senin (29/4).
Harga biji kopi petik merah atau fine robusta jauh lebih tinggi,
yaituRp 100.000 per kg. Sementara harga kopi bubuk Rp 120.000-Rp 200.000 per kg
menyesuaikan kualitas. Kenaikan harga kopi ini dipicu anjloknya hasil panen tahun
lalu akibat El Nino. Saat itu, hasil panen kopi dari lahan seluas 1 hektar
lahan tak lebih dari 1 kuintal. Jumlah itu jauh dibandingkan dengan produksi
saat normal yang bisa mencapai 1-1,5 ton per hektar. Menurut Danuri, sejumlah pembeli
dari berbagai kota di Indonesia ataupun dari luar negeri telah menghubunginya.
Bahkan, ada beberapa calon pembeli yang datang langsung ke
kebun untuk melihat kualitas tanaman kopi robusta. ”Permintaan kopi untuk jenis
fine robusta sudah cukup banyak. Ada pembeli dari Singapura yang minta 1,5 ton.
Ada pembeli dari Jawa yang minta biji kopi sebanyak 5 ton. Tetapi saya belum
bisa menyanggupi semua,” katanya. Harga kopi yang tinggi membuat petani senang,
sekaligus harus waspada dengan keamanan kebun kopi. Saat harga kopi tinggi,
dikhawatirkan rawan pencurian. Petani juga berkoordinasi dengan polisi
setempat. Purna (48), petani kopi asal Sekincau, Kecamatan Sekincau, Kabupaten
Lampung Barat, mengatakan, petani kopi membentuk kelompok ronda untuk saling
membantu menjaga kebun kopi, terutama pada malam hari. (Yoga)
Panen Anjlok, Harga Kopi di Lampung Melambung
Harga kopi di Lampung melonjak seiring
kurangnya pasokan dari sentra produksi. Petani berharap kondisi ini tidak dimanfaatkan
oleh importir untuk membanjiri pasar domestik dengan kopi impor. Saat ini,
harga biji beras kopi atau green bean jenis robusta di tingkat petani Rp
50.000-Rp 52.000 per kg. Adapun harga biji kopi yang telah disangrai (roasted)
Rp 75.000-Rp 85.000 per kg. Sementara harga kopi bubuk Rp 120.000-Rp 200.000 per
kg menyesuaikan kualitas. Kenaikan harga itu bertahap dari semula Rp 35.000 per
kg (green bean). Bahkan, pada musim panen raya yang lalu, harganya hanya Rp
20.000 per kg.
Abdul Charis (58) petani kopi Kecamatan Sekincau, Lampung Barat, Sabtu (30/3) menuturkan, menipisnya pasokan biji kopi petani disebabkan fenomena El Nino sehingga hasil panen petani anjlok 90 %. Dari 1 hektar lahan, hasil kopi yang didapat tak sampai 1 kuintal. Jumlah itu jauh dibandingkan dengan produksi saat normal yang bisa mencapai 1 ton per hektar. ”Saat ini, kami hanya mampu memasok ke tiga kedai kopi dari sebelumnya puluhan kedai. Stok kopi sudah susah didapat,” kata Abdul Charis. (Yoga)
Kopi Gayo Punya Cerita
Lubang-lubang untuk menanam kopi telah disiapkan di kaki
bukit di Desa Paya Tumpi Baru, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh. Doa
mendaras dari mulut sejumlah warga dan tamu undangan yang ikut menanam bibit
kopi siang itu, Sabtu (25/11). Dalam dekapan udara sejuk segar Gayo, tanaman
kopi yang di kawasan itu diberi nama Siti Kewe ditanam dengan rasa hormat. Begitulah
tradisi menanam kopi di kawasan Gayo yang diawali dengan ritual sederhana, Dua
Ni Kupi. Ritual ini melambangkan doa dari orangtua kepada anaknya agar ia
tumbuh besar dan kelak berguna bagi keluarga serta orang-orang di sekitarnya.
Di sini, Siti Kewe dianggap bukan sekadar tanaman, melainkan anak kesayangan.
Ritual Dua Ni Kupi masih ada yang melakukannya hingga sekarang,
terutama para orang tua. ”Mereka percaya sekali kalau bibit yang didoakan bakal
tumbuh subur,” ujar Hardiansyah, pendamping Program Peningkatan Kebudayaan Desa
Paya Tumpi Baru. Hardiansyah selaku pegiat seni dan budaya Gayo mencoba menghidupkan
lagi proses menanam Siti Kewe dengan ritual Dua Ni Kupi. Tujuannya, agar terjalin
hubungan yang erat antara petani muda dan Siti Kewe. Ia memanfaatkan Festival
Panen Kopi Gayo 2023 sebagai panggung besarnya. Tahun ini, Festival Panen Kopi
Gayo yang diprakarsai oleh Komunitas Gayo Kultural Lab menjadi perhelatan ke-6.
Dengan dukungan pembiayaan dari Kemendikbudristek, festival digelar ditiga desa,
yakni Desa Kelitu, Bukit Sama, dan Paya Tumpi Baru. Berbagai seni tradisi pun
dihadirkan.
Kopi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Gayo. Dari
kopilah, sebagian besar warga Gayo hidup. Tidak heran jika kopi begitu disayang.
Tahun 2020, menurut data BPS Aceh, produksi kopi arabika Gayo di Aceh Tengah,
Bener Meriah, dan Gayo Lues mencapai 65.793 ton biji kopi (green beans).
Produksi ini 40 % dari total produksi kopi arabika nasional. Sebagian besar
produksi kopi arabika Gayo diekspor ke luar negeri, terutama AS, Eropa, dan
beberapa tahun belakangan ini China. Para pembeli dari negara-negara itu berani
menyerap dan membeli mahal kopi arabika Gayo di atas standar harga
internasional. Lewat Festival Panen Kopi Gayo, diharapkan tradisi budaya Gayo
diperkenalkan lagi agar dikenal banyak orang. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









