;
Tags

Korporasi

( 1584 )

Danantara Suntik Pendanaan ke PT Garuda Indonesia Rp 6,65 T

KT1 25 Jun 2025 Investor Daily
Danantara Indonesia melalui PT Danantara Asset Management (Persero) memberikan pinjaman pemegang saham (stakeholder loan) senilai Rp 6,65 triliun atau setara US$ 405 juta kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menerangkan, langkah ini  menjadi wujud dari pendekatan baru dalam restrukturisasi dan transformasi persero dibawah pengelolaan Danantara Indonesia. "Penyaluran dana ini adalah bentuk nyata dari mandat tranformasi yang kami emban, dengan pendekatan yang profesional, terukur, dan mengedepankan prinsip tata kelola yang baik. Kami bukan sekedar memberikan pendanaan, namun kami hadir sebagai pemegang saham dengan mandat yang jelas dan pendekatan institusional," ujar Dony. Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pemeliharaan, perbaikan dan pemeriksaan, yang merupakan bagian dari total dukungan pendanaan bernilai sekitar US$ 1miliar. Dukungan transformasi komprehensif ini mencakup optimalisasi bisnis, serta pendampingan menyeluruh berbasis tata kelola dan restrukturisasi penyehatan kinerja. (Yetede)

Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih

KT1 24 Jun 2025 Investor Daily (H)
Ketegangan geopolitik kembali meningkat di kawasan Timur Tengah  setelah serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas  nuklir di Iran, serta potensi penutupan Selat Hormuz. Situasi yang memicu lonjakan harga minyak global ini turut mengangkat saham-saham sektor energi dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan  saham energi ini diyakini bakal berlanjut, dengan potensi gain yang masih  cukup tinggi. Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai, kondisi saat ini sangat menguntungkan bagi emiten hulu migas yang berorientasi  pada produksi. "Dengan kekhawatiran gangguan rantai pasok, harga jual minyak bisa meningkat tajam, dan hal ini akan berdampak langsung pada kenaikan margin keuntungan bagi produsen seperti PT Medco Energi Internasioanl Tbk (MEDC)," kata dia. Indy memproyeksikan harga saham MEDC bakal melanjutkan penguatan menuju level Rp 1.600-1.700. Sementara PGAS atau PT Perusahaan Gas Negara Tbk juga bisa terdorong ke Rp 1.800. Meski saham migas mencatatkan penguatan signifikan, Indy menilai, kontribusinya terhadap IHSG masih terbatas. "Saham-saham energi bukan termasuk big cap IHSG. Jadi, untuk menopang indeks secara luas tetap diperlukan peran emiten perbankan yang bobot kapitalisasinya besar," tutur dia. (Yetede)

Program Tarif Diskon 30% untuk Perjalanan Kereta Api Kelas Ekonomi

KT1 24 Jun 2025 Investor Daily (H)
Program tarif diskon 30% untuk perjalanan kereta api kelas Ekonomi komersial terus mendapatkan sambutan positif. Hingga 22 juni 2025 pukul 10.00 WIB, KAI mencatat 1.320.011 tiket telah terjual dari total 3.529.612 kursi yang disediakan. Artinya, 37% dari kapasitas telah dipesan, dan angka ini diperkirakan terus bertambah seiring dimulainya libur sekolah di berbagai wilayah hingga 31 Juli 2025.  Vice President Public Relation KAI Anne Purba mengatakan, pihaknya tetap membuka kesempatan mengenai pembelian tiket kereta diskon 30% pada berbagai channel resmi PT KAI. "Kami mengajak pelanggan untuk segera merencanakan perjalanan liburannya dan memanfaatkan promo ini sebelum kehabisan," ungkap Anne. Menyambut masa liburan sekolah, PT KAI (Persero) mengajak masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan matang, termasuk memperhatikan ketentuan bagasi dan segera memanfaatkan promo tarif yang tersedia sebelum kehabisan. Anne menjelaskan bahwa setiap pelanggan diperbolehkan membawa bagasi tanpa dikenakan ketentuan maksimal dengan berat 20 kg, volume 100 dm3 (dimensi 70x48x30 cm), dan maksimal 4 koli. (Yetede)

Akseleran Cari Cara Pulihkan Pinjaman

HR1 24 Jun 2025 Kontan (H)
Kasus gagal bayar di platform fintech lending PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia mencuat ke publik setelah macetnya pinjaman senilai Rp 178,2 miliar yang berasal dari enam peminjam. Hingga 23 Juni, pengembalian baru mencapai Rp 647 juta, dan hanya dua peminjam yang sempat membayar.

Ivan Nikolas Tambunan, Komisaris Utama sekaligus Co-Founder Akseleran, mengakui kondisi ini serius. Ivan menyebut dua jurus yang disiapkan untuk memulihkan dana lender: pertama, memaksimalkan penagihan termasuk penjualan aset agunan milik borrower seperti tanah di Karawang dan Bekasi; kedua, menggandeng mitra baru untuk menyalurkan pembiayaan ke borrower sehat, lalu menggunakan referral fee dari kerja sama itu untuk mencicil dana talangan ke lender.

Selain upaya penagihan, Akseleran juga telah menempuh jalur hukum. Ivan mengungkapkan pihaknya melaporkan dua peminjam bermasalah ke polisi karena proyek yang tidak jelas, dan mengancam langkah serupa kepada dua peminjam lain jika tidak ada kejelasan pembayaran.

Menanggapi dugaan fraud internal, Ivan menegaskan belum menemukan indikasi aliran dana ke Direksi atau Chief Risk Officer, meski refinancing sempat diberikan ke enam borrower itu demi mencoba menyelamatkan pinjaman sebelumnya. Sayangnya, keputusan itu justru membuat pinjaman bermasalah meledak bersamaan.

Anita Carolina, salah satu lender yang dananya ratusan juta tersangkut, mengaku masih menunggu kepastian dan berharap Akseleran serius melakukan penagihan.

Kasus ini menambah panjang daftar masalah gagal bayar di industri fintech lending Indonesia, menunjukkan pentingnya mitigasi risiko, tata kelola yang baik, dan pengawasan ketat dalam menjaga kepercayaan publik. 

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi

HR1 23 Jun 2025 Kontan
Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, terutama akibat serangan Amerika Serikat ke situs nuklir Iran, memicu kenaikan harga minyak global. Risiko terbesar adalah jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% pengangkutan migas dunia—yang bisa memperparah gangguan pasokan.

Andhika Audrey, Analis Panin Sekuritas, menilai eskalasi konflik berpotensi menjadi katalis positif bagi emiten minyak upstream yang menjual dengan harga spot, karena margin mereka bisa naik berkat lonjakan harga minyak.

Namun, Sukarno Alatas, Analis Senior Kiwoom Sekuritas, mengingatkan bahwa emiten migas dalam negeri tidak otomatis diuntungkan secara signifikan. Harga minyak masih rentan turun kembali jika konflik mereda, mengingat tekanan kelebihan pasokan di pasar global. Meski begitu, Sukarno menyebut saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA) tetap menarik. Ia menargetkan harga MEDC di Rp 1.700 dan ELSA di Rp 600 pada akhir tahun, melihat tren kenaikan harga saham mereka sejauh ini.

Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas, menyoroti peluang jangka menengah dari insentif pemerintah untuk mendorong produksi migas domestik. Namun ia juga memangkas proyeksi laba MEDC 2025–2027 karena revisi ke bawah pada volume penjualan tembaga, emas, dan harga minyak. Hasan juga menilai ELSA lebih tahan banting karena didukung kontrak jangka panjang dengan harga tetap, sehingga lebih stabil di tengah fluktuasi harga minyak.

Sementara itu, tim analis Ina Sekuritas menilai target operasional 15 proyek migas senilai US$ 832,7 juta pada 2025 yang digarap SKK Migas bisa jadi katalis positif, menambah kapasitas produksi nasional. Emiten seperti ELSA diproyeksi mendapat efek positif karena induknya, Pertamina Hulu Energi, menargetkan pertumbuhan lifting 4%–5% yoy.

Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah membuka peluang bagi emiten migas hulu seperti MEDC dan ELSA, tetapi para analis menekankan investor harus tetap waspada pada faktor risiko lain seperti kurs rupiah, kebijakan energi, pajak, isu geopolitik lanjutan, dan transisi energi baru-terbarukan yang bisa memengaruhi kinerja sektor migas ke depan.

Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi

HR1 23 Jun 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan melambat pada Mei 2025, hanya tumbuh 8,43% yoy, lebih rendah dibanding April dan akhir 2024. Penyebab utamanya adalah pergeseran perilaku korporasi yang lebih memilih pendanaan lewat penerbitan obligasi.

Moch Amin Nurdin, pengamat perbankan, menilai obligasi lebih murah dalam jangka panjang dengan bunga 6–8%, jauh lebih rendah dibanding bunga kredit bank rata-rata 9,75% pada Mei. Selain bunga yang lebih tinggi, kredit bank juga menuntut biaya tambahan seperti provisi, administrasi, dan agunan, yang menambah beban calon debitur.

Sylvanus Gani, CFO Adira Finance, membenarkan penerbitan obligasi lebih kompetitif dari sisi biaya pendanaan. Karena itu, Adira terus mendiversifikasi sumber pendanaan untuk memperoleh struktur biaya terbaik.

Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan meski obligasi lebih murah, prosesnya lebih kompleks—ada bookbuilding, izin OJK, dan birokrasi. Namun ia juga menyoroti sikap bank yang makin konservatif menyalurkan kredit akibat ketidakpastian ekonomi dan daya beli yang belum pulih.

Data Pefindo menunjukkan mandat penerbitan obligasi yang belum listing hingga Mei mencapai Rp 88,27 triliun, dengan sektor multifinance dan tambang paling aktif.

Meski begitu, M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, optimistis pihaknya bisa mempertahankan dominasi di segmen wholesale. Ia menyebut kredit korporasi Bank Mandiri naik 20% per Maret, dan menargetkan pertumbuhan kredit 10–12% pada 2025, dengan fokus pada sektor energi, tambang, perkebunan, dan ekosistem bisnis strategis.

Perlambatan kredit bank mencerminkan tren korporasi mencari pendanaan lebih murah lewat pasar modal, sementara bank perlu beradaptasi dengan menjaga keseimbangan antara risiko dan daya saing biaya kredit.

Batu Sandungan Agenda Penghematan XLSmart

KT1 23 Jun 2025 Investor Daily
PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menargetkan penghematan US$ 100 juta dari integrasi bisnis XL dan Smartfren. XL Smart adalah perusakan hasil merjer XL dan Smartfren. Akan tetapi Sucor Sekuritas menilai, rencana itu akan menghadapi batu sandungan berupa biaya yang harus dipikul dan integrasi ini, antara lain hukum serta umum dan administrasi. Artinya, penghematan yang diraih bakal tergerus oleh biaya-biaya itu. "Selain itu ada warisan dari kerugian Smartfren sebelum proses merger," tulis broker itu, dikutip Minggu (22/06/2025). Sementara itu, run rate pada kuartal 1-2025 stabil, terlihat pada jumlah pelanggan dan minimnya penghentian penggunaan layanan (churn). Ini didorong oleh tiga strategi merek yang dijalankan XL Smart. DItengah tantangan yang dihadapi, Sucor Sekuritas percaya, sinergi akan mengangkat aluasi valuasi saham EXCL. Apalagi jika kondisi makro ekonomi Indonesia mendukung dan daya beli masyarakat pulih. Sucor Sekuritas menetapkan target harga saham EXCL Rp 2.800. Pada akhir pekan lalu, saham EXCL naik 0,45% ke level Rp2.450. (Yetede)

Korporasi Semarak Terbitkan Obligasi

KT1 21 Jun 2025 Investor Daily (H)
Penerbitan surat utang atau obligasi korporasi semarak terjadi menjelaskan akhir semester pertama tahun ini. Sejumlah emiten besar akan menghadapi siklus puncak jatuh tempo obligasi pada paruh kedua 2025. Investor bisa mencermati obligasi korporasi untuk mendulang untung bukan dari kupon, tetapi juga optimal gain di tengah tren penurunan  suku bunga. Emiten-emiten gede yang menggelar penawaran obligasi di antaranya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Tower Bersama Infrastucture Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan di Koran Investor Daily, CUAN menerbitkan Obligasi Berkelanjutan 1 Tahap 1 Tahun 2025 dengan jumlah pokok sebanyak Rp 650 miliar dan Sukuk Wakalah Berkelanjutan 1 Tahap 1 Tahun  sebanyak Rp 350 miliar. Seluruh dana akan digunakan CUAN sebagai modal kerja anak usahanya, PT Multi Tambang Utama (MUTU), untuk  membiayai kontraktor, pemasok, biaya tenaga kerja, dan beban usaha lainnya. (Yetede)