Peternak Terpaksa Kurangi Produksi
PALEMBANG, TRIBUN - Ketua Asosiasi Peternak Ayam Sumsel, Ismaidi Chaniago mengemukakan pandemi covid-19 membuat para peternak di Sumsel mengalami pengurangan produktivitas. Di masa normal sebelum pandemi covid-19 melanda produksi peternak bisa hingga delapan kali panen ayam broiler. Ismaidi mengemukakan di masa pandemi Covid-19 produksi peternak anjlok bisa sampai 5 kali saja panen dalam setahun. Ia mengemukakan standarnya, setiap peternåk memiliki kandang ayam dengan kapasitas 5.000 ekor ayam.
Setiap tahun di masa normal panen dilakukan setiap 21 hari hingga 28 hari. Setelahnya kandang dikosongkan untuk jeda produksi berikutnya. Pengosongan kandang biasanya dilakukan seminggu atau dua minggu. Baru setelahnya diisi ayam lagi untuk digemukkan.
Di masa pandemi, karena kurangnya permintaan ayam, peternak memperpanjang masa jeda kosong kandang. Karena kalau tetap berproduksi ayam melimpah di pasar harga jatuh. Seperti sempat beberapa pekan lalu, harga ayam di kisaran Rp 22 ribu saja per kg. "Banyak kandang peternak ayam kosong, karena sengaja menjarangkan produksi. Karena peternak merugi kalau tetap berproduksi, biaya operasional tinggi, sementara harga ayamnya jatuh," kata Ismaidi kepada Tribun Sumsel Selasa (10/8/2021).
Menurut Ismaidi saat ini harga ayam potong di kisaran Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu di peternak. Setelah dilepas di pasar harga ayam di kisaran Rp 26 ribu hingga Rp 28 ribuan Itu bisa dikatakan harga yang sudah lumayan. Pengurangan produksi peternak ayam, disebabkan banyak faktor. Pertama daya beli masyarakat memang menurun akibat pandemi cavid-19. Ditambah lagi restoran, cafe, warung, hotel banyak yang tak beroperasi dengan maksimal, karena kekurangan pembeli atau pelanggan akibat penerapan pengetatan kegiatan masyarakat. Belum lagi gelaran acara pernikahan, pesta dibatasi. Karenanya jarang orang membeli ayam dalam jumlah banyak. "Satu lagi yang kita soroti, ayam dari luar Sumsel pun leluasa masuk ke Sumsel, nah peternak lokal sudah susah cari pembeli, ditambah lagi ada ayam dari luar yang masuk ke Sumsel," kata Ismaidi.
Karenanya Ismaidi mengharapkan ada kepedulian pihak terkait, baik di Dinas Perdagangan, maupun di Dinas Peternakan Sumsel, untuk memperketat masuknya ayam potong dari luar Sumsel. "Karena tanpa ayam potong dari luar Sumsel masuk sudah susah cari pembeli. Ditambah lagi masuk ayam dari luar, makin lengkaplah penderitaan peternak ayam," kata Ismaidi. Ismaidi menganalisa ada sekitar 10 ribu hingga 20 ribu ekor ayam potong dari luar Sumsel yang masuk setiap harinya. "Kalau pihak terkait ingin faktanya, saya bisa tunjukkan," kata Ismaidi.
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023