;

Penjualan Anjlok, Kurangi Jumlah Pegawai

02 Aug 2021 Sumatera Ekspres
Penjualan Anjlok, Kurangi Jumlah Pegawai

Petani ikan hias di Palembang salah satunya ada di Gang Sianjur, Kecamatan Ilir Timur II. Dulu, hampir setiap rumah menjual ikan hias di sana. Namun, akhir pekan lalu, pemandangan itu hilang dari mata wartawan koran ini. Kini, di daerah terkenal kaya akan hias tersebut masih menyisakan satu orang petani. Namanya H Eddy Yusuf (61), warga Gang Antara RT 16, No 31 dengan jargon usaha 374 akuarium. Wajar dia bertahan. Kakek 3 orang anak dan 11 orang cucu sudah tekuni usaha itu 40 tahun lebih. Beragam ikan hias dan ikan kolam dia jual. Mulai dari bibit ikan kolam, lele, gurami, nila, patin serta bawal. Lalu ada juga beragam bibit ikan. Seperti ikan mas, lohan, arwana, channa, ikan mas koi, komet, layang-layang, gurami albino, ikan sembarau, mancis, kapiat serta koi metalik. H Eddy sendiri, memasok ikan hias tersebut dari beragam daerah. "Selain bogor, dari Jawa Timur, Tulung Agung dan beberapa daerah lainnya," ulasnya. Ikan tersebut selanjutnya, dihamparkan dalam kolam pemeliharaannya. Dari luas lahan 3.500 meter persegi, ada sebanyak 100 unit kolam semen dengan ukuran 2 x 2 meter dan 4 x 4 meter. Ditambah dengan kolam tanah sebanyak 4 buah. "Dulu kita melakukan pembibitan. Sulitnya, jika pembibitan harus dipelihara selama tiga bulan baru bisa dijual. Sedangkan kalau kita membeli bibit, bisa langsung dijual," tuturnya.

Mengurai harga penjualan ikan hias. Mantan calon pegawai dinas perkebunan ini menjelaskan untuk harga ikan yang paling mahal saat ini adalah Koi. "Khusus ikan koi, harga jualnya mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 800 ribu/ ekornya. Dan saat ini pendistribusian ikan koi, masih tinggi-tingginya. Untuk di Sumatera Selatan, permintaan ikan koi terbilang masih tinggi," jelasnya. Sedang jenis ikan hias lainnya, terbilang masih rendah. Mengorek keterangan H Eddy, ikan koi yang paling mahal adalah ikan koi tiga warna. Tetapi, warna yang ada semuanya terang dan enak dilihat. "Sebenarnya ada juga yang empat warma. Harganya juga mahal. Namun jarang ikan koi empat warna, memiliiki tektur dan keindahan warna yang terang dibanding ikan koi tiga warna," kata dia.

Distribusi ikan hias yang disalurkan, sejauh ini kesemua daerah diwilayah Sumatera Selatan. Bahkan banyak juga permintaan dari Provinsi Lampung serta Jambi. Sayangnya, karena ada pembatasan pemberlakukan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat demand turun. "Bagaimana mau mengirim ikan, jika ada PPKM. Jadi kita juga sangat terimbas," jelasnya. Sebelum pemberlakukan PPKM, Eddy, menjelaskan dalam satu bulan bisa mencapai 5 - 6 kali pengiriman.

Waktu PPKM diberlakukan, permintaan ikut turun. Dalam sebulan H Eddy, hanya mengirim 1 mobil. "Yang jelas sekarang ini, wong bukan nak ngejoke beli ikan. Mereka nak ngejoke makan dulu. Anak-anak sekolah. Galo-galo nak duit galo. Kalu sekat menyekat diteruske, nah bakal saro kedepan," bebernya. Dia berharap agar penyelenggaraan PPKM segera usai sehingga setiap pengusaha dapat Kembali menjalani kehidupan normal. 

Pria yang memulai karirnya dari umur 15 tahun ini juga berharap pandemi segera berakhir. "Dan masyarakat Kembali hidup normal. Termasuk kami petani ikan, yang kini terseok-seok akibat penerapan PPKM," pungkasnya. Mengingat lanjutnya, tidak hanya penjualan yang menurun drastis, tetapi dia harus memikirkan 6 orang gaji karyawannya. "Saat ini ada sebanyak 6 orang karyawan. Kalau dulu sebelum pandemi karyawan yang saya pekerjakan ada sebanyak 9 orang. Lantaran terkena pandemi dan penjualan ikan menurun akhirnya pegawai terpaksa kita kurangi. Hanya 6 orang saja," pungkasnya.

Tags :
Download Aplikasi Labirin :