;

Ubah Sampah Jadi Karya Memiliki Nilai Seni Tinggi

14 Jun 2021 Sumatera Ekspres
Ubah Sampah Jadi Karya Memiliki Nilai Seni Tinggi

Mencari galeri art milik Eriq Zein (41), tidaklah sulit. Rumah dengan ornamen jadul, berdiri di pinggir Jalan Lettu Roni Belut, Sekojo, Kecamatan IT II. Selintas dari luar halaman rumah, terlihat agak lusuh dan tak terawat. Namun, akan berbeda ketika kita sudah duduk di pelataran rumah lajang alumnus Modern School of Design Jogjakarta ini.

Menyambangi rumah anak pasangan dari Bapak H Tjikyan (alm) dan Ibu Hi Zainona Hazairin, wartawan koran ini sempat tertegun. Beberapa bahan baku plastik, kertas daur ulang serta kulit kayu menjadi satu kesatuan ornamen yang memiliki nilai seni tinggi. Sepertinya tak ada sisa limbah terbuang percuma di tangan Eriq, sapaannya. Tak hanya sampai di situ, sisa komponen komputer, listrik, telepon serta elektronik (e-waste), juga dia buat menjadi karya seni yang sangat tinggi nilainya.

Berbincang dengan Eriq, begitu membangun inspirasi baga. Betapa tidak, selama puluhan tahun, baik di Jogjakarta, Jakarta, dan Bali, dia habiskan waktunya sekadar untuk mengubah sisa limbah yang tidak berguna menjadi karya seni. Sebenarnya, Eriq, mengakui kalau dirinya adalah bagian dari masyarakat pencinta lingkungan. Kebiasaan buruk kerap dilakukan warga dengan membuang sampah sembarangan membuat hatinya bergerak untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Namun, untuk mengubah budaya jelek tidak serta merta seperti. membalik telapak tangan. "Yang ada dalam benak saya, bagaimana menciptakan karya seni tinggi dari bahan sampah. Sehingga warga, ke depan pikir-pikir untuk membuang sampah. Mengingat sampah, jika dikelola dapat menjadi salah satu komoditi seni," ujarnya.

Hal inilah pada akhirnya membuat dirinya, membuka cakrawala untuk menciptakan ornamen sení dari limbah-limbah tak terpakai. Apalagi sampah plastik. Karena sampah plastik tidak bisa diurai tanah hingga ratusan tahun lamanya. Jika ini dibiarkan terus menerus, akan berdampak buruk untuk generasi mendatang. "Namun, jika sampah dikelola dengan baik, maka kita tinggalkan nanti adalah pendidikan. Bagaimana generasi mendatang dapat mengelola limbah tanpa harus meracuni dunia (dibuang ke tanah, red). Bahkan limbah tadi, bisa dipajang untuk mempercantik ruangan,' jelasnya.

Membuat satu karya, tidak mudah juga tidak sulit. Eriq, sendiri menguasai teknik pemberian warna colour dari media limbah plastik. Untuk pewarnaan, dia mengambil dari media plastik. Biasanya dapat dijadikan warna, biru, ungu serta abu-abu. "Intinya kita anti dengan pewarna kimia. Pemanfaatan pewarna dari botol plastik ini sendiri sudah tentu ikut melestarikan alam. Dimana botol plastik bekas tidak lagi dibuang, karena dapat digunakan untuk pewarna," jelasnya.

Sehingga seni yang dihasilkan adalah seni penggabungan. Mix media art. Dimana plastiknya bakar di atas kertas, dan bisa menghasilkan sebuah karya lukis yang dapat dinikmati oleh mata. "Seni penggabungan ini sendiri kita yang melakukan. Bahkan orang Amerika juga sempat bertanya dengan kita, bagaimana cara melakukannya," ujar Eriq tersenyum.

Hal lain dia utarakan, dalam melakukan teknik pembakaran dirinya sendiri ekstra hati-hati. Mengingat jika salah bakar warna yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dan teknik pembakaran juga diharapkan tidak menimbulkan timbal. Begitu juga seni karya yang dia buat dari kayu. Selain decord kulit kayu, juga seni pembuatan kursi, hiasan dinding serta dinding terbuat dari ornamen kayu.

"Khusus kayu, memang tidak ada yang terbuang sama sekali. Baik batang, kulit, akar serta dahan sekalipun. Di tangan orang yang cinta lingkungan semuanya dapat digunakan untuk karya seni," jelasnya.

Untuk menikmati hasil karya seninya, beberapa teman-teman pencinta lingkungan mengajak Erik untuk ikut dalam kegiatan festival.

"Festival diadakan mulai tanggal 5 Juni hingga 27 Juni 2021. Namun tempatnya memang berpindah-pindah," jelasnya. Festival bulan Juni 2021, ini sendiri diadakan di beberapa panche spektakel klub serta coffee shop. Antara lain, di Ampera Memanggil, Bibliotek, Dialekcoffe, Jama-Jama Project, Kota Kata, Liga Grafika Ampera, Lith Studio 98, Malam Puisi Palembang.

Selain itu juga diadakan, Methamorpho, Multabisu, Nuansa Space, Plemnag Mime Club, Palembang Movie Club, Panche Hub, Pusperi, Rempah Laws, Ruang Cahaya, Ruang Hidoep, Rumah Sintas, Sang kakalam Publishing, Satwika Space, Sarekat Hijau Indonesia, Sema House, Spektakel Klab, Solidaritas Perempuan, Spora Ins, Taman TVRI, Ten Storey serta Walhi Sumsel.

Keinginannya satu, jika sampah berbahan dasar plastik tidak ditanggulangi dengan baik, pasti berpotensi mencemari lingkungan hidup. Termasuk tanah, laut, sungai bahkan manusia itu sendiri. Dan melalui karyanya ini, dia mengajak agar masyarakat menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara yang paling sederhana yaitu tidak membuang sampah sembarangan serta "mengangkat” plastik-plastik, sehingga ekosistem yang ada di dalam tanah "dapat bernafas” dengan baik.

Untuk mengenal Eriq atau ingin belajar mengubah limbah menjadi seni, Eriq sangat membuka diri. "Silakan jika ada yang ingin berbagi pengalaman. Atau bisa mengunjungi saya di Instragram @lith98artstudio," tukasnya. 

Tags :
Download Aplikasi Labirin :