Percepat Kawasan Food Estate, Gelar Monev
PALEMBANG - Provinsi Sumsel menjadi salah satu provinsi yang dipercaya menjadi lokasi Food Estate. Program ini akan menjadikan Sumsel sebagai lumbung pangan nasional. Untuk merealisasikan itu, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumsel bersama instansi dan daerah melakukan percepatan implementasi program tersebut dengan melakukan rapat kerja dengan Sekretariat Kabinet RI bersama Kementerian Perekonomian bidang Perekonomian, Kementerian PPN/ Bappenas, Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR.
"Tim ini melakukan kunjungan ke Sumsel dalam rangka melihat, memonitoring dan evaluasi kesiapan dan rencana pelaksanaan Food Estate di Sumsel pada 9-11 Juni," kata Plt Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumsel, Bambang Pramono usai Kegiatan Monitoring dan Evaluasí Program Peningkatan Penyediaan Pangan Nasional melalui Pengembangan Kawasan Food Estate di Kantor DPTPH, kemarin.
Dia mengatakan, program Food Estate telah digelar kick off di 5 daerah pada 28 Mei, yakni Banyuasin, Ogan Komering llir (OK), OKU Timur, Ogan Ilir, dan OKU Selatan. Berdasarkan rapat, ada 5 komponen yang harus dipersiapkan daerah. Pertama, lokasi atau area of intrest, Sumsel mencatat alokasi lahan 1,7 juta hektare, tetapi akan dirinci mana lokasi yang berbasis pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan sehingga betul betul by name by adress.
Alokasi lahan, Kabupaten OKU Timur seluas 20.629 hek tare, OKU Selatan 3 ribu hektare, dan Ogan Ilir 2 ribu hektare. Sehingga totalnya 25.629 hektare. Jumlah itu belum termasuk usulan lahan Food Estate yang telah masuk ke Kementerian Pertanian September 2020 seluas 178 ribu hektare. Rinciannya Kabupaten Banyuasin 118.732 hektare dan OKI 59.751 hektare.
Kedua, yang jadi catatan lokasi Kajian Lingkungan Hidup Stratogis (KLHS) sedang dipersiapkan. Food Estate ini harus berwawasan lingkungan dan punya amdal di lokasi sehingga keberadaannya tidak cemari lingkungan dan punya konsep pertanian berkelanjutan, Ketiga, daerah itu harus menyiapkan model bisnis di Sumsel. Usaha harus berbasis pertanian modern, usaha tani berbasis pendekatan digitalisasi. Tak hanya konsep pertanian dalam arti selama ini, juga harus ada percepatan yang diakomodir dari hulu dan hilir. "Petani kami dorong melakukan peningkatan produksi tetapi kesejahteraan,” ucap dia.
Keempat hilirisasi. Bagaimana produk yang dihasilkan petani Food Estatepunya nilai tambah, jaminan pasar dan petani dapat harga yang pantas sesui harga pasar. Terakhir paling penting berbasis kooporasi dengan terbentuknya kooporasi di lokasi Food Estate. Kehadirannya akan fasilitasi kebutuhan para petani peserta dan penjualan produk. "Petani punya perencanaan matang,” tegasnya. Dari semuanya kini proses kejelasan area (lahan), dokumen, hingga master plan. Termasuk hilirisasi produk bekerja sama dengan mitra swasta dan Bulog. BUMD, dan mitra lain.
Kasi Rehabilitasi Lahan Perluasan dan Perlindungan Kementan RI German Silaen SE MM mengatakan pihaknya mengapresiasi kesiapan Sumsel melaksanakan Food Estate. Apalagi daerah ini punya keunikan dan keungulan lokal yang jadi nilai tambah untuk jadikan Sumsel kawasan Food Estate. "Kami lihat potensi besar. Bagaimana kesiapan meski ada beberapa hal perlu jadi perhatian, seperti SDM, sarana dan prasarana" ucapnya. Karenanya, sambung dia, pihaknya berharap terjadi percepatan implementasi program.Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023