Luhut Resmikan Smelter Nikel di Pulau Obi Senilai US$ 1 M
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang
Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan
meresmikan operasi pengolahan (smelter) bijih nikel
HPAL (High Pressure Acid Leaching) di Pulau Obi,
Halmahera Selatan, Maluku Utara. Keberadaan
smelter senilai US$ 1 miliar ini akan mendorong
percepatan hilirisasi mineral menuju industrialisasi
berbasis baterai dan pengembangan kendaraan
listrik di Indonesia.
Diprediksi pada 2030, masyarakat
secara global mempunyai kesadaran
untuk mengurangi emisi dan akan
mendorong kenaikan permintaan
kendaraan listrik yang nilainya dapat
mencapai 31,1 juta unit. Di Indonesia
sendiri, pemerintah menargetkan
dapat memproduksi 600 ribu unit
kendaraan listrik roda empat dan 2,45
juta roda dua. Peningkatan permintaan
kendaraan listrik dapat menaikkan
permintaan baterai, terutama jenis
NCM (nickel-cobalt-mangan).
“Indonesia memiliki sumberdaya
dan cadangan nikel serta cobalt yang
cukup, didukung oleh mineral lain seperti tembaga, alumunium, dan timah
yang akan menjadi modal besar untuk
bermain dalam industri kendaraan listrik,” kata Luhut dalam keterangannya
di Jakarta, Rabu (23/6)
Selain PT HPL, di KI Pulau Obi juga
terdapat perusahaan smelter lainnya,
yakni PT Megah Surya Pertiwi dan
PT Halmahera Jaya Feronikel. Kedua
perusahaan tersebut memproduksi
ferronickel menggunakan RKEF. Di
samping perusahaan smelter, ada
juga perusahaan pertambangan bijih
nikel, yaitu PT Gane Permai Sentosa
dan PT Trimegah Bangun Persada.
Mengingat banyaknya industri yang
beroperasi di Pulau Obi ini.
“Diharapkan kawasan ini menjadi pusat pengembangan dan pusat pertumbuhan wilayah di Pulau Obi khususnya
dan di Halmahera, serta Maluku Utara
secara umum,” kata Luhut.
(Oleh - HR1)
Tags :
#NikelPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023