Kurangi Ketergantungan Pupuk Subsidi
Palembang - Ketergantungan petani pada pupuk bersubsidi pelan-pelan bakal dikurangi. Salah satunya dengan menerapkan Program Agro Solution. Petani nantinya akan dibekali kemampuan dalam mengatur ketepatan waktu pemberian pupuk, dosis yang diberikan, cara pemupukan yang baik dan benar serta memperhitungkan proyeksi harga pupuk dengan produksi yang bakal dihasilkan. Sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pembelian non-subsidi bisa tertutupi.
Wakil Mentri Pertanian RI, Harvick Hasno Qolbi mengatakan, kebutuhan pupuk petani di Indonesia mencapai 24 juta ton. Sementara produksi yang dihasilkan tahun ini di tergetkan bisa mencapau 13 juta ton. Untuk pupuk bersubsidi mencapai 9 juta ton. Kebutuhan subsidi tersebut pelan-pelan bakal dikurangi. “Kita ingin petani mandiri. Sehingga ketergantungan pada pupuk bersubsidi bisa berkurang,” katanya saat berkunjung ke Palembang.
Harvick mengatakan, distribusi pupuk bersubsidi selama ini selalu menjadi polemik. Banyak permasalahan dalam prosesnya. Untuk itulah, penggunaan pupuk non-subsidi akan ditingkatkan. “Sebenarnya jika petani bisa mengatur penggunaan dan dosis yang sesuai, mereka tidak perlu lagi membutuhkan subsidi untuk pupuk. Makanya, inilah yang ingin kita kejar. Subsidi pupuk juga saat ini sangat tergantung dengan anggaran pemerintah,” katanya.
Dijelaskan, Kementerian Pertanian saat ini terus memonitor ketersedian pupuk di seluruh rakyat Indonesia. Terutama untuk memenuhi kebutuhan musim tanam kedua. “Kami melihat ketersedian pupuk di seluruh perusahaan BUMN produsen pupuk di seluruh daerah. Mungkin tingga Aceh yang belum. Sejauh ini ketersedian cukup. Petani tidak perlu khawatir. Tingkat distribusi harus tepat sasaran agar bisa sampai ke petani sesuai dengan aturan,”bebernya,
Menurutnya, produksi pupuk tahun ini terus digenjot hingga 13 juta ton. Untuk mendukung target panen raya Agustus mendatang. Produksi pupuk tidak hanya disuplai dari perusahaan pupuk plat merah saja. Peran swasta akan ditingkatka. “Kita bangun pabrik produksi baru. Bukan hanya BUMN saja tapi juga swasta,” tuturnya.
Harvick menuturkan, produksi pangan juga terus ditingkatkan. Salah satunya dengan memanfaatkan komunitas seperti pondok pesantren dan komunitas lainnya. “Ini juga untuk mendorong regenerasi petani. Agar milenial bisa terdorong untuk menjadi petani,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur sumsel H Herman Deru menuturkan, sinergitas santri merupakan salah satu terobosan di bidang pertanian. Selama ini, mereka hanya mendapat ilmu di dalam ruangan. Mengenal cara bercocok tanam yang baik dan benar. “Tapi ini kita lakukan kegiatan ekstrakurikuler. Hasilnya diharapkan bisa menunjang operasional pesantren. Selain itu bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar pesantren,” ungkapnya.
Direktur PT Pusri Palembang, Tri Wahyudi Saleh mengatakan, pihaknya terus mendorong penggunaan pupuk non-subsidi melalui program Argo Solution. Sehingga menghilangkan ketergantungan terhadap pupuk bersubsidi. “Kita tawarkan pola pendampingan Agro Solution. Agar penggunaan pupuk non-subsidi bisa efektif dan efisien,” ucap Tri.
Menurutnya, selisih harga antara pupuk subsidi dan non-subsidi sekitar Rp 2 ribu. Selisih tersebut sebenernya bisa tertutupi saat petani bisa mengatur jumlah pupuk yang digunakan. Varian pupuk non-subsidi juga saat ini terus dikembangkan. Disesuaikan dengan jenis tanaman. Seperti pupuk NPK khusus singkong yang sudah digunkan oleh petani di kawasan Pati.
“Selama ini, produksinya 20 ton. Setelah menggunakan NPK singkong, produksinya bisa mencapai 40 ton per hektar. Selisis produksi yang cukup besar kan bisa menutupi biaya pembelian pupuk non-subsidi,” terangnya.
Tri menuturkan, PT Pusri tahun ini menargetkan produksi pupuk urea dan NPK sebanyak 1,9 juta ton. Dari yang awalnya hanya 1,4 juta ton. Peningkatan produksi tersebut lantaran bertambahnya wilayah kerja. Selain di Sumbagsel dan Bangka Belitung, PT Pusri juga mendistribusikan pupuk hingga sebagain wilayah Jawa Timur seperti Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Probolinggo. “Kami jug menyuplai Provinsi Bali dan NTT,” bebernya.
Penyaluran pupuk subsidi di awal tahun sempat tersendat. Pasalnya, PT Pusri selaku produsen baru bisa menyalurkan pupuk bersubsidi jika persyaratan bagi petani sudah lengkap. “Penerima harus tergabung dalam kelompok tani. Lalu Gapoktan harus mengajukan RDKK. Nah, di awal tahun ini, pendataan masih di lakukan,” terangnya.
Terkait program Agro Solution yang dijalankan di lingkungan pondok pesantren, Tri mengaku, PT Pusri bakal mendukung penuh. Baik untuk suplai pupuk, benih dan lainnya. Untuk permodalan, sudah ada bank daerah dan Himbara. “ Kenapa di Pondok Pesantren. Sebab kita ingin membangun petani milineal. Kita berharap santri bisa menyukai bidang pertanian. Ini juga mendukung program Pak Guberbur untuk meningkatkan produksi hasil pertanian,” pungkasnya.
Postingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023