;

Agar Pentas Kembali Bernapas

10 Apr 2021 Majalah Tempo
Agar Pentas Kembali Bernapas

ANAS Syahrul Alimi punya waktu tiga bulan. Chief Executive Officer PT Syakira Ghyna Rajawali Indonesia Communication itu sedang menyiapkan Prambanan Jazz Festival, perhelatan musik jazz yang akan digelar pada2-4 Juli mendatang. Persiapan kai ini memang jauh dari jauh pengalaman Rajawali Indonesia. Acara pada awal Juli itu akan menjadi ajang kembalinya Prambanan Jazz Festval ke pelataran Candi Prambanan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada November tahun lalu, festival yang berkibar sejak 2015 itu terpaksa beralih ke tayanagn virtual karena Covid-19. 

Pandemi yang belum berakhir pula yang kini memaksa Anas dan Timnya menggodok sejumlah rencana tambahan. Mereka kudu memastikan protokol kesehatan terpenuhi jika ingin festival kembali di gelar secara offline. "Sedang finalisasi. Penyelenggara konser harus dapat rekomendasi dari satuan tugas daerah," kata Anas, Selasa, 6 April lalu. Konser bertaraf international terakhir yang digelar secara langsung adalah Java Jazz Festival di Jakarta International Expo pada 28 Februari-1 Maret 2020. Persis satu hari seusai penyelenggaraan acara tersebut, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. 

PONTANG-PANTING menghadapi bisnis yang mati suri, tujuh perusahaan peyelenggara konser terpaksa membentuk Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) pada 28 Oktober 2020. Mereka adalah Rajawali Indonesia, Java Festival Production, Berlian Entertainment, Nada Promotama, Synchronize Festival, Hype Music Asia, dan Ravel Entertainment (Hammersonic). Pembahasan teknis dimulai sejak saat itu. Pada 8 Maret lalu, lima hari setelah 15 asosiasi industri menyampaikan surat terbuka kepada Jokowi, Kementerian Pariwisata mengundang sejumlah perwakilan asosiasi kreatif bertemu di Hotel Mercure, Jakarta. Bincang-bincang itu dihadiri Jenderal Listyo; juru bicara Satuan Tugas Penangan Covid-19, Wiku Adisasmito; dan pelaksana tugas Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat kementerian Kesehatan, Kartini Rustandi. 

Rencana penyelenggaraan kembali konser secara offline juga menjadi angin segar bagi pemerintah daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang setahun terakhir ikut lesu seiring dengan rontoknya bisnis pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Singgih Raharjo mengungkapkan, berbagai konser musik di Yogyakarta selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan daerahnya. Penonton yang datang dari berbagai daerah, juga mancanegara, akan membelanjakan dananya di sektor akomodasi, makanan, dan minuman. "Jalan terus saja," tutur Singgih. 

(Oleh - HR1) 

Tags :
Download Aplikasi Labirin :