;

Strategi Emiten, Adu Kencang 'Kokok' Emiten Ayam

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 04 Mar 2021 Bisnis Indonesia
Strategi Emiten, Adu Kencang 'Kokok' Emiten Ayam

Serangkaian strategi diramu oleh emiten unggas pada 2021 di tengah ekspektasi perbaikan kondisi daya beli dan kinerja tahun ini.

Tekanan yang dihadapi emiten unggas pada 2020 tecermin dari kinerja keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA). Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2020, JPFA membukukan penurunan pendapatan 4,9% year-on-year (yoy) dari Rp38,87 triliun pada 2019 menjadi Rp36,96 triliun.

Penurunan itu dipicu oleh penjualan neto segmen pakan ternak yang merosot 19,99% yoy menjadi Rp10,83 triliun. Kendati demikian, penjualan peternakan komersial tumbuh 15,86% yoy menjadi Rp13,36 triliun pada 2020.

Emma A. Fauni, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menuturkan kinerja JPFA pada kuartal IV/2020 menunjukkan adanya perbaikan. Pasalnya, laba pada periode tersebut yang mencapai Rp666 miliar mencerminkan kenaikan 546,1% secara kuartalan.

Kuatnya pertumbuhan kinerja JPFA pada kuartal IV/2020, lanjut Emma, disebabkan oleh peningkatan segmen day old chick (DOC) serta pemulihan segmen peternakan komersial dan akuakultur.

Komisaris Independen Charoen Pokphan Suparman mengatakan ekspor kali ini diharapkan menjadi pintu gerbang Indonesia untuk tujuan negara Timur Tengah. Pada tahap awal, CPIN mengirimkan 1 kontainer atau sekitar 3.618 kilogram produk makanan olahan daging ayam.

PT Widodo Makmur Unggas Tbk., sebelumnya, telah merampungkan pembangunan rumah potong ayam (RPA) dengan kapasitas produksi 12.000 ekor per jam yang menelan investasi Rp600 miliar.

Ali Mas’adi, Direktur Utama Widodo Makmur Unggas, mengatakan RPA baru yang terletak di Wonogiri itu diproyeksi mampu memotong 50,4 juta ekor ayam per tahun. Dengan demikian, emiten berkode saham WMUU itu siap untuk mendorong produksi menjadi 119.740 ton pada 2021.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan emiten unggas memang mengalami masa yang cukup menyulitkan akibat penurunan daya beli, biaya produksi, tingkat margin, dan pasar yang oversupply.

Lini bisnis pakan ternak dan pembibitan ayam yang turun tajam dinilai bisa menjadi refleksi penurunan minat masyarakat untuk berbisnis pembesaran ayam.

(Oleh - HR1)


Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :