INA Langsung Beroperasi
JAKARTA-Menteri Keuangan (Menkeu), Sri
Mulyani Indrawati memastikan Lembaga Pengelola
Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority
(INA) sudah bekerja. Setelah diperkenalkan
Presiden Jokowi kepada publik, Selasa (16/2),
lembaga yang kerap disebut sovereign wealth
fund (SWF) itu langsung beroperasi.
“Struktur INA sudah diumumkan
Presiden dan langsung beroperasi.
Kami langsung bekerja, bahkan
kami sudah mulai melakukan pertemuan dengan para calon mitra
fund,” kata Sri Muyani yang juga
menjabat sebagai Ketua Ex-Officio Dewan Pengawas INA, dalam
pertemuan virtual dengan para
pemimpin redaksi (pemred) media
massa di Jakarta, Selasa (16/2)
malam.
Menurut Menkeu, INA sudah
dibekali modal Rp 30 triliun lewat
penyertaan modal negara (PMN)
dari APBN yang masing-masing disuntikkan tahun lalu dan awal tahun
ini. Presiden Jokowi pada Selasa
(16/2) pagi memperkenalkan jajaran Jajaran Dewan Pengawas dan
Direksi INA. Dewan Pengawas INA
terdiri atas Menkeu Sri Mulyani
dan Menteri BUMN Erick Thohir
masing-masing sebagai Ketua Ex-officio dan anggota Ex-Officio, yang
dibantu tiga anggota dari profesonal,
yaitu Darwin Cyril Noerhadi Yozua
Makes dan Haryanto Sahari.
Adapun jajaran Direksi INA meliputi Ridha Wirakusumah (Direktur
Utama), Arief Budiman (Wakil
Direktur Utama), Stefanus Ade Hadiwidjaja (Direktur Investasi), Marita
Alisjahbana (Direktur Risiko), dan
Eddy Porwanto (Direktur Keuangan).
INA berstatus badan hukum Indonesia yang sepenuhnya dimiliki
pemerintah Indonesia. Lembaga
yang bertanggung jawab kepada
presiden ini diberi kewenangan
khusus (sui geneis) dalam rangka
pengelolaan investasi pemerintah pusat sebagaimana diatur Undang-Undang (UU) No 11 Tahun
2020 tentang Cipta Kerja.
Dipercaya Investor
Presiden Jokowi yakin INA akan
memperoleh kepercayaan investor,
baik domestik maupun asing. Selain
menjadi mitra strategis bagi para
investor dalam maupun luar negeri,
INA akan menyediakan pembiayaan
yang cukup untuk program pembangunan, khususnya program pembangunan infrastruktur nasional.
“Pertama, pembentukan INA mempunyai dasar hukum yang kuat, yaitu diperintah langsung oleh UU Cipta Kerja. Kelembagaan dan cara kerjanya juga jelas sebagaimana diatur dalam PP Nomor 74 Tahun 2020,” ujar dia.
Kedua, kata Presiden, INA dijamin menjadi institusi profesional yang dilindungi UU dan menggunakan pertimbangan-pertimbangan profesional dalam menentukan langkah-langkah kerjanya. Ketiga, INA dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa yang berpengalaman di kancah profesional internasional, yang telah dijaring oleh panitia seleksi, dibantu para head hunter profesional.
Presiden menjelaskan, keberadaan
INA juga akan mengurangi kesenjangan kemampuan pendanaan domestik
dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan. INA akan menjadi
mitra strategis bagi para investor, baik
dari dalam negeri maupun luar negeri, agar tersedia pembiayaan yang
cukup untuk program pembangunan,
khususnya program pembangunan
infrastruktur nasional.
Sangat Strategis
Presiden Jokowi memperkenalkan
satu per satu jajaran Dewan Pengawas dan Dewan Direktur INA. Di
jajaran Dewan Pengawas, dari unsur
profesional ada tiga orang, yakni
Haryanto Sahari, Yozua Makes, dan
Dar win Cyril Nurhadi. Har yanto
Sahari merupakan ahli di bidang tata
kelola perusahaan dan manajemen
risiko. Ia telah berpengalaman lebih
dari 30 tahun sebagai akuntan senior
yang mengaudit berbagai perusahaan
besar kelas dunia.
Haryanto juga anggota komite
audit Unilever Indonesia 2016 hingga
sekarang. Sebelumnya, ia pernah menempati posisi sebagai senior auditor
di PricewaterhouseCoopers (PwC)
Australia dan partner PwC Indonesia.
Selanjutnya Yozua Makes, ahli di
bidang hukum, korporasi, dan keuangan. Pendiri dan managing partner
firma hukum Makes and Partner ini
berpengalaman lebih dari 30 tahun
di bidang hukum dengan spesialisasi
menangani merger dan akuisisi, corporate finance, termasuk penanaman
modal asing.
Adapun Dar win Cyril Noerhadi
merupakan ahli di bidang pasar modal
yang punya pengalaman dalam fundraising dan investasi hingga US$ 1,5 miliar di Indonesia, Malaysia, India, dan
Vietnam. Ia pun berpengalaman sebagai komisaris dan direksi di berbagai
entitas ternama, antara lain corporate
finance dan partner PwC Indonesia
serta chairman Cradel Capital.
Jokowi juga memperkenalkan jajaran Direktur INA yang terdiri atas
Ridha Wirakusumah (Direktur Utama), Arief Budiman (Wakil Direktur
Utama), Stefanus Ade Hadiwidjaja
(Direktur Investasi), Marita Alisjahbana (Direktur Risiko), dan Eddy
Pur wanto (Direktur Keuangan).
Presiden mengungkapkan, Ridha
Wirakusumah ditetapkan sebagai
Direktur Utama/Chief Executive
Officer (CEO) INA karena sangat
berpengalaman sebagai eksekutif
senior di perbankan, jasa keuangan,
dan investasi.
Langsung Bergerak
Menurut Menkeu Sri Mulyani, INA langsung bergerak. Lembaga itu sudah menyiapkan sejumlah langkah dan rencana kerja awal. “Kami sudah mulai bekerja. Pak Ridha sebagai Dirut INA nanti menyampaikan langkah-langkah awal yang disiapkan,” tutur dia.
Sri Mulyani menjelaskan, Indonesia
masih memiliki masalah struktural
fundamental, salah satunya di bidang
pembiayaan infrastruktur. Jika pemerintah tak mengambil langkah terobosan, Indonesia bisa terperangkap dalam
jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Penuh Integritas
Sementara itu, Direktur Utama LPI/ INA, Ridha Wirakusumah menyatakan siap bekerja secara profesional dan penuh integritas. “Kami akan menjalankan tugas ini dengan integritas tertinggi dan sesuai tata kelola yang berlaku,” tegas dia.
Ridha berjanji akan menciptakan
iklim investasi yang nyaman bagi para
investor, sehingga mereka tertarik
berpartisipasi dalam program pembangunan di Indonesia.
Menurut Menkeu Sri Mulyani,
banyak fund manager yang menyatakan ketertarikannya terhadap INA.
“Sudah ada beberapa fund manager
yang melakukan expression of interest dengan menulis surat langsung
kepada saya dan Pak Erick (Menteri
BUMN). Sebelum Dewas selesai
pun, mereka sudah menyampaikan
keinginannya, bahkan menyampaikan
indikatif angka yang mereka ingin
masukkan dalam INA,” papar dia.
Di sisi lain, Kementerian PUPR dan
Kemenhub menyambut positif mulai
bekerjanya LPI/INA. Anggota BPJT
Kementerian PUPR, Koentjahjo Pamboedi berharap INA berperan mengurangi beban badan usaha jalan tol
(BUJT), terutama BUMN.
Dirjen Pembiayaan Infrastruktur
Kementerian PUPR, Eko Djoeli Heripoerwanto mengungkapkan, pada
skema pembiayaan pembangunan
jalan tol ke depan, Kementerian PUPR
menyiapkan beberapa instrumen, salah satunya land value capture (LVC)
yang diterapkan dalam pembangunan
Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Menurut pengamat BUMN, Toto
Pranoto, INA adalah berita baik
bagi dunia usaha, terutama BUMN,
yang aktif berinvestasi atau ditunjuk
pemerintah mengerjakan proyek
infrastruktur. Sebab, alternatif pembiayaan terdiversifikasi bukan saja pada
instrumen utang, tetapi mulai masuk
ke ekuitas.
Kedepankan Transparansi
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani menyambut positif terbentuknya INA.
“INA bisa menjadi trigger positif untuk
iklim usaha dan investasi di Indonesia
apabila betul-betul dijalankan sesuai
konsepsi awal, independen, profesional, dan akuntabel,” tegas dia.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy mengatakan, susunan organisasi INA yang lengkap harus diikuti akuntabilitas, terutama menyangkut transparansi pengelolaan dana. “Lembaga pemeriksa maupun masyarakat harus ikut mengawasi dari mana dana kelolaan didapatkan dan akan digunakan untuk proyek mana,” jelas dia. Yusuf menilai INA juga memiliki risiko terkait pemilihan instrumen investasi kelak
(oleh - HR1)
Tags :
#Investasi lainnyaPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023