Komoditas Tambang, ‘Perang’ China-Australia & Nasib Emiten Batu Bara
Melansir Bloomberg,
Rabu (4/11), Importir dari china di minta untuk tidak mengimpor produk
komoditas Australia termasuk batu bara, bijih tembaga dan konsentratnya, gula,
kayu, anggur, hingga lobster. Hubungan dagang menjadi makin panas sejak Perdana
Menteri (PM) Australia Scott Morrison menyerukan penyelidikan independent
terhadap asal-usul virus corona pada April 2020.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan boikot tersebut tentu akan berdampak pada harga batu bara. Hendra melanjutkan perusahaan yang bisa mengambil peluang dari momentum tersebut adalah pelaku usaha yang memiliki spot kontrak di bawah 1 tahun atau memiliki slot batu bara dengan kualitas yang sama dengan Australia.
Adapun harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ditransaksikan dibanderol pada level harga US$59,25/ton pada akhir pekan, atau terhitung menguat 2% dari posisi penutupan pekan sebelumnya di US$58/ton. Menurut Equity Analyst Samuel Sekuritas Indonesia Desy Lapagu, aksi boikot ini berdampak kepada kelebihan pasokan global. Pasalnya, produk yang selama ini dipasok ke China harus tertahan dan membanjiri pasar di luar negara tersebut.
Menyusul memanasnya hubungan kedua negara tersebut, mayoritas saham emiten pertambangan kompak menunjukan pelemahan atau berada di zona merah pada perdagangan Rabu (4/11). Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy dalam risetnya menilai emiten tambang UNTR masih layak untuk dikoleksi.
Tags :
#TambangPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023