;

Prospek Komoditas Agribisnis, Harga Karet Makin Melar

Lingkungan Hidup R Hayuningtyas Putinda 20 Nov 2020 Bisnis Indonesia
Prospek Komoditas Agribisnis, Harga Karet Makin Melar

Peluang perbaikan secara jangka Panjang harga karet terbuka pascakoreksi akibat terdorong peningkatan permintaan dari sektor otomotif China. Data Bloomberg pada kamis (19/11) mencatat harga karet untuk kontrak Februari 2021 di pasar Singapura terpantau pada level US$156 perkilogram (kg) menguat 1,40 point atau 0,91% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sepanjang November 2020 harga karet bergerak pada kisaran US$149 per kg hingga US$ 158,50 per kg. Bahkan pada 28 November, harga karet mencatatkan kenaikan terbesar sepanjang tahun yakni pada US$ 180,20 per kg.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono menuturkan pandemi virus corona, Selain dari China permintaan terhadap karet di dukung oleh Amerika Serikat. Berbeda dengan China yang membutuhkan komoditas karet untuk sektor otomotif, permintaan karet Negeri Paman Sam naik akibat kebutuhan sarung tangan karet di sektor kesehatan. Data sensus AS menunjukan pada kuartal III/2020 jumlah impor sarung tangan karet untuk tenaga medis melesat 57% menjadi 244 juta pasang. Jumlah impor untuk seluruh jenis sarung tangan merekah 28% menjadi 14,6 miliar pasang. Selanjutnya harga karet akan kembali turun pada awal 2021, hal ini di sebabkan oleh koreksi jenuh beli (overbought).

Direktur TRFX Garuda Berjangka. Ibrahim menambahksan produksi karet dari negara kontributor terbesar seperti Thailand dan Indonesia terganggu siklus cuaca La nina, ditengah keterbatasan produksi tingkat permintaan justru naik sehingga mendorong angka. Ibrahim memproyeksi pergerakan harga karet di sisa tahun 2020 berada pada level US$150 hingga US$161,50 per kg.

Laporan Commodity Markets Outlooks yang dirilis oleh Bank Dunia menuliskan penurunan permintaan selama pandemic di pengaruhi penutupan pabrik – pabrik di China hingga Eropa dan Amerika Selatan, permintaan global turun 10% hingga September 2020 dan 5% dari tahun sebelumnya. Turut terhentinya produksi karet global turun lebih dari 50%. Analis Senior ICIS, Ann Sun mengatakan rebound yang terjadi pada pasar otomotif di China akan membantu harga karet mengalami kenaikan, juga di topang oleh penjualan sarung tangan karet selama pendemi virus corona.

Co Founder Halcyon Agri Corp, Andrew Trevatt memperkirakan China masih mendominasi pasar karet dengan menyumbang 40% dari total permintaan karet global. Data dari Asosiasi Negara Produsen Karet Alam atau Association Of Natural Rubber Producing Countries menyebutkan periode Januari – Oktober 2020 China mengimpor sebanyak 4,5 juta metrik ton karet atau lebih tinggi 587.000 metrik ton di bandingkan dengan periode Januari – Oktober 2019.


Tags :
#Agrobisnis
Download Aplikasi Labirin :