;

Impor Migas Merosot

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 17 Nov 2020 Investor Daily
Impor Migas Merosot

Penurunan impor minyak dan gas (migas) bumi menjadi salah satu faktor penyebab terus membaiknya surplus neraca perdagangan. Impor migas pada Oktober 2020 tercatat sebesar US$ 1,08 miliar, turun 8% dibanding September 2020, bahkan merosot 38,54% dibanding Oktober 2019 (year on year/yoy). 

Selama 10 bulan pertama (Januari-Oktober), impor migas juga anjlok 3,6% (yoy), dari US$ 17,617 miliar menjadi US$ 11,689 miliar. Sementara itu, surplus perdagangan selama Oktober 2020 tercatat sebesar US$ 3,61 miliar, sedangkan secara kumulatif Januari-Oktober 2020 mencapai US$ 17,07 miliar atau setara Rp 240 triliun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Senin (16/11/2020) menyatakan, surplus sebesar US$ 3,61 miliar merupakan selisih antara nilai ekspor Oktober 2020 sebesar US$ 14,39 miliar dan impor US$ 10,78 miliar. Surplus tersebut lebih tinggi dibanding September 2020 sebanyak US$ 2,39 miliar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan, mulai tahun 2026, tidak akan ada lagi impor bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini didorong oleh peningkatan produksi BBM dari kilang dan program mandatori bahan bakar nabati (BBN). Pada tahun ini, kata Tutuka, permintaan BBM dalam negeri memang jauh lebih besar dari produksi dari kilang nasional, sehingga impor BBM diperlukan untuk menutup konsumsi domestik.

Akan tetapi impor BBM kembali meningkat menjadi 10,45 juta KL pada 2024 dan mencapai 12,67 juta KL pada 2025. Proyeksi impor tersebut dengan asumsi konsumsi BBM naik sebesar 3,16% per tahun. Kebutuhan BBM nasional diperkirakan akan naik dari sebesar 69,72 juta KL pada tahun ini, di kisaran 72-77 juta KL pada 2021-2022, tembus di level 80-87 juta KL pada 2024-2027, dan mencapai 90-96 juta KL pada 2028-2030.

Di sisi lain, pemanfaatan BBN nasional diproyeksikan terus meningkat dari 8,43 juta KL pada tahun ini menjadi 10,5 juta KL pada 2023, dan menembus 12,8 juta KL pada 2025. Setelah itu, pemanfaatan BBN terus naik di kisaran 13,1-13,7 juta KL pada 2027-2029 dan mencapai 16,1 juta KL pada 2030. Pemanfaatan BBN menutup selisih produksi dan kebutuhan BBM mulai dari 2026 hingga 2030.

Lebih lanjut Setianto menyatakan, secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Oktober 2020 mencatat surplus fantastis, sebesar US$ 17,07 miliar atau setara Rp 240 triliun. Posisi ini lebih baik periode sama 2019 yang defisit sebesar US$ 2,12 miliar atau periode Januari-Oktober 2018 yang defisit lebih dalam lagi, senilai US$ 8,7 miliar. Khusus ekspor nonmigas terjadi kenaikan 3,54% (mtm) serta turun 1,84% secara tahunan (yoy) pada Oktober. Industri pengolahan memberikan sumbangan terbesar, yaitu US$ 11,79 miliar pada Oktober, atau tumbuh 2,08% (mtm) dan 3,86% (yoy). Diikuti oleh sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$ 1,55 miliar atau meningkat 16,98% (mtm), namun merosot 33,31% secara tahunan. Ekspor dari sektor pertanian mencapai US$ 420 juta, naik 1,26% secara bulanan dan melonjak 23,8% secara tahunan (yoy). 

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro berpendapat, untuk mempertahankan surplus neraca perdagangan, pemerintah harus melakukan substitusi produk impor. Khususnya untuk bahan baku/penolong, barang setengah jadi, dan barang modal. Hal ini dilakukan agar saat pertumbuhan ekonomi meningkat, kestabilan neraca perdagangan bisa terjaga. Ari Kuncoro meyakini, kehadiran Undang-Undang Cipta Kerja akan mempercepat subsitusi produk impor, karena UU tersebut akan menghadirkan banyak investor baru 

Sementara itu, jika dilihat struktur impor berdasarkan penggunaan, barang konsumsi mengalami kontraksi 7,58% secara mtm dan dan minus 27,88% secara tahunan. Bahan baku/ penolong terkontraksi sebesar 5% (mtm) dan kontraksi 27,4% (yoy). Barang modal juga negatif sebesar 13,33% (mtm) dan minus 24,24 secara tahunan. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjadja Kamdani mengatakan, impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal masih kontraksi karena tertahan oleh ketidakpastian global pada bulan Oktober 

Tags :
#Impor
Download Aplikasi Labirin :