Impor Migas Merosot
Penurunan impor minyak dan gas
(migas) bumi menjadi salah satu faktor penyebab
terus membaiknya surplus neraca perdagangan.
Impor migas pada Oktober 2020 tercatat sebesar
US$ 1,08 miliar, turun 8% dibanding September
2020, bahkan merosot 38,54% dibanding
Oktober 2019 (year on year/yoy).
Selama 10 bulan pertama (Januari-Oktober), impor migas juga
anjlok 3,6% (yoy), dari US$ 17,617
miliar menjadi US$ 11,689 miliar.
Sementara itu, surplus perdagangan selama Oktober 2020 tercatat
sebesar US$ 3,61 miliar, sedangkan
secara kumulatif Januari-Oktober
2020 mencapai US$ 17,07 miliar atau
setara Rp 240 triliun.
Deputi Bidang Statistik Distribusi
dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS)
Setianto dalam konferensi pers
secara virtual di Jakarta, Senin
(16/11/2020) menyatakan, surplus
sebesar US$ 3,61 miliar merupakan
selisih antara nilai ekspor Oktober
2020 sebesar US$ 14,39 miliar dan
impor US$ 10,78 miliar. Surplus tersebut lebih tinggi dibanding September
2020 sebanyak US$ 2,39 miliar.
Sementara itu, Direktur Jenderal
Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji
mengatakan, mulai tahun 2026, tidak
akan ada lagi impor bahan bakar
minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini didorong
oleh peningkatan produksi BBM
dari kilang dan program mandatori
bahan bakar nabati (BBN).
Pada tahun ini, kata Tutuka, permintaan BBM dalam negeri memang
jauh lebih besar dari produksi dari
kilang nasional, sehingga impor
BBM diperlukan untuk menutup
konsumsi domestik.
Akan tetapi impor BBM kembali meningkat menjadi 10,45 juta KL pada 2024 dan mencapai 12,67 juta KL pada 2025. Proyeksi impor tersebut dengan asumsi konsumsi BBM naik sebesar 3,16% per tahun. Kebutuhan BBM nasional diperkirakan akan naik dari sebesar 69,72 juta KL pada tahun ini, di kisaran 72-77 juta KL pada 2021-2022, tembus di level 80-87 juta KL pada 2024-2027, dan mencapai 90-96 juta KL pada 2028-2030.
Di sisi lain, pemanfaatan BBN
nasional diproyeksikan terus
meningkat dari 8,43 juta KL pada
tahun ini menjadi 10,5 juta KL
pada 2023, dan menembus 12,8
juta KL pada 2025. Setelah itu,
pemanfaatan BBN terus naik di
kisaran 13,1-13,7 juta KL pada
2027-2029 dan mencapai 16,1
juta KL pada 2030. Pemanfaatan
BBN menutup selisih produksi
dan kebutuhan BBM mulai dari
2026 hingga 2030.
Lebih lanjut Setianto menyatakan, secara kumulatif, neraca
perdagangan Januari-Oktober
2020 mencatat surplus fantastis,
sebesar US$ 17,07 miliar atau
setara Rp 240 triliun. Posisi ini
lebih baik periode sama 2019
yang defisit sebesar US$ 2,12
miliar atau periode Januari-Oktober 2018 yang defisit lebih dalam
lagi, senilai US$ 8,7 miliar.
Khusus ekspor nonmigas
terjadi kenaikan 3,54% (mtm)
serta turun 1,84% secara tahunan
(yoy) pada Oktober. Industri
pengolahan memberikan sumbangan terbesar, yaitu US$
11,79 miliar pada Oktober, atau
tumbuh 2,08% (mtm) dan 3,86%
(yoy). Diikuti oleh sektor pertambangan dan lainnya sebesar
US$ 1,55 miliar atau meningkat
16,98% (mtm), namun merosot
33,31% secara tahunan.
Ekspor dari sektor pertanian
mencapai US$ 420 juta, naik
1,26% secara bulanan dan melonjak 23,8% secara tahunan (yoy).
Rektor Universitas Indonesia
Ari Kuncoro berpendapat, untuk
mempertahankan surplus neraca perdagangan, pemerintah
harus melakukan substitusi
produk impor. Khususnya untuk
bahan baku/penolong, barang
setengah jadi, dan barang modal.
Hal ini dilakukan agar saat pertumbuhan ekonomi meningkat,
kestabilan neraca perdagangan
bisa terjaga.
Ari Kuncoro meyakini, kehadiran Undang-Undang Cipta
Kerja akan mempercepat subsitusi produk impor, karena UU
tersebut akan menghadirkan
banyak investor baru
Sementara itu, jika dilihat
struktur impor berdasarkan
penggunaan, barang konsumsi
mengalami kontraksi 7,58% secara mtm dan dan minus 27,88%
secara tahunan. Bahan baku/
penolong terkontraksi sebesar
5% (mtm) dan kontraksi 27,4%
(yoy). Barang modal juga negatif
sebesar 13,33% (mtm) dan minus
24,24 secara tahunan.
Wakil Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo)
Shinta Widjadja Kamdani mengatakan, impor barang konsumsi, bahan baku, dan barang
modal masih kontraksi karena
tertahan oleh ketidakpastian
global pada bulan Oktober
Tags :
#ImporPostingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023