;

Cerita Indonesia, Cerita Kopi Gayo

Lingkungan Hidup Yoga 17 May 2025 Kompas
Cerita Indonesia, Cerita Kopi Gayo

Pamor kopi arabika gayo tak pernah padam. Semangat petani kopi di Dataran Tinggi Gayo terus membara. Terjaganya pasar ekspor membuat kopi gayo terus bercerita tentang Indonesia di panggung dunia. Minggu (11/5) Aspriyono (55) memasuki kebun kopi di Desa Blang Gele, 8,5 kilometer barat Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Tangannya cekatan membuang tunas-tunas baru yang tidak diperlukan. Masa panen kebun kopi seluas 1 hektar di lereng gunung menghadap Danau Lut Tawar telah berakhir. Merahnya buah ceri kopi hanya terlihat di beberapa pohon berjarak tanam 2,5 x 2 meter. Namun, harga kopi yang bagus sejak awal 2025 membuat Aspriyono tak lengah merawat kebun kopinya. ”Kami, petani, tahu kalau kopi-kopi ini akan diekspor. Kami juga memastikan ini organik (tanpa menggunakan bahan kimia). Harga bagus ini mudah-mudahan semakin stabil,” ujar Aspriyono.

Sekali putaran mengutip kopi, selama 15 hari, kebun Aspriyono bisa menghasilkan 20 kaleng buah ceri kopi, yang disebut warga setempat dengan gelondongan, sekitar 240 kg. Pada masa panen awal 2025, di Takengon, buah ceri kopi arabika dihargai Rp 210.000 per kaleng (12 kg) oleh pengumpul untuk dijual kepada kolektor, sebelum berlanjut diekspor. Kebun kopi di Dataran Tinggi Gayo juga menjadi warisan turun-temurun. Kopi arabika gayo dikenal berkualitas baik sehingga lebih dari 90 % diekspor, permintaan domestik pun bertumbuh. Dalam menjaga kualitas kopi, Aspriyono acapkali mendapat pelatihan dan pendampingan budidaya kopi. Salah satu pelatihan diberikan Koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan, Takengon, yang mengekspor kopi ke Starbucks di AS. Saidi (48), petani asal Desa Bener Kelipah Selatan, menuturkan, bagi masyarakat Gayo, kopi bukan sekadar minuman, melainkan warisan leluhur.

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Aceh Armia, di Simpang Tiga Redelong, Sabtu (10/5), menuturkan, kenaikan harga kopi arabika pun turut mengerek harga robusta sehingga semua petani sejahtera dan bahagia. Di Koperasi Permata Gayo, yang didirikan Armia, terdapat program mendorong bisnis kopi menjadi lebih hilir, khususnya bagi anak muda. Selain itu, juga ada sejumlah pelatihan anak muda menjadi barista, pencicip kopi (cupper), dan penilai kualitas kopi (Q-grader). Diharapkan, Bener Meriah ataupun Gayo tak hanya terkenal kopinya, tetapi juga semakin banyak tenaga terampil ahli kopi level nasional ataupun kancah global. Di tengah berbagai tantangan, keberlanjutan kopi gayo juga berarti keberlanjutan kopi Indonesia. Seperti disampaikan masyarakat Gayo, ”Ada kopi, ada cerita”. (Yoga)


Tags :
#Kopi #Varia
Download Aplikasi Labirin :