Keinginan NTT Berswasembada pangan
Lapak beras berjejer di Pasar Kasih, Kupang, NTT, Selasa (13/5). Beras asal Sulawesi menguasai pasar tradisional terbesar di NTT itu. Kebanyakan beras medium dijual dengan rentang harga Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per kg. ”Beras Sulawesi banyak yang beli ketimbang beras lain. Dalam satu hari terjual paling sedikit 20 kg,” kata Aldi (40), pedagang eceran di Kupang yang sudah 15 tahun berdagang beras. Di tengah dominasi beras dari luar, tampak beredar beras lokal. Salah satunya beras premium dengan merek khas Kupang. Sayangnya, kata pedagang, isi dari kemasan itu tak semuanya beras yang diproduksi petani NTT. Dominasi beras asal Sulawesi menunjukkan tingginya ketergantungan NTT pada produksi beras dari luar daerah. BI Perwakilan NTT merilis, 70 % beras untuk NTT dipasok dari luar.
Tingginya pasokan beras dari luar menyebabkan neraca perdagangan NTT defisit hingga Rp 34,61 triliun. Plt Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan NTT, Joaz Umbu Wanda menyebutkan, NTT defisit beras 200.000 ton per tahun dari total kebutuhan 622.000 ton per tahun. Untuk meningkatkan produksi beras, banyak tantangan mengingat kondisi alam di NTT lebih cocok untuk pertanian lahan kering. Ketersediaan air menjadi persoalan utama. Pemerintah pun telah berupaya, di antaranya membangun sejumlah bendungan dengan total biaya Rp 7,207 triliun. Selain itu, pendampingan terhadap petani diperkuat mulai dari penyiapan lahan, penggunaan alat pertanian modern, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. Penyuluh pertanian langsung di bawah tanggung jawab pemerintah pusat.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut, pemerintah pusat memberikan dukungan penuh terhadap upaya swasembada pangan di NTT, ditandai dengan kunjungan Wapres Gibran ke NTT, 6-7 Mei 2025. Melkiades pun mendorong penguatan pada pangan nonberas karena NTT kaya akan keberagaman pangan. ”Swasembada pangan tidak melulu pada beras. Setiap daerah punya keunggulan. Ini yang harus diperkuat,” katanya. Dalam catatan Kompas, ada komunitas adat di NTT yang mandiri pangan, yakni suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, pisang, dan banyak lagi. Dengan lahan tadah hujan. Pangan mereka tersedia sepanjang tahun. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023