;

Meretas Jalan Daulat Pangan Dari Desa

Lingkungan Hidup Yoga 19 Apr 2025 Kompas
Meretas Jalan Daulat Pangan Dari Desa

Pergeseran pola makan yang kian seragam telah menjalar hingga ke desa-desa. Konsumsi beras dan gandum mendominasi. Pangan lokal pun kian terpinggirkan. Melalui budidaya beragam pangan lokal, petani desa meretas jalan daulat pangan. Maria Mone Soge (35), petani asal Desa Hewa, Kabupaten Flores Timur, NTT, risau dengan bantuan pangan pemerintah, karena bantuan itu tidak memaksimalkan pangan lokal yang amat beragam. ”Bantuan pangan bertujuan baik untuk mengatasi kerawanan pangan. Namun, sayangnya program ini mengakibatkan masyarakat lokal punya ketergantungan tinggi terhadap pangan impor. Sebab, bantuan pangan itu tidak menggunakan bahan pangan lokal,” ujar Maria dalam diskusi ”Dialog Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Pangan: Kolaborasi Program Untuk Penguatan Sistem Pangan Nasional Berbasis Pangan dan Kearifan Lokal” yang digelar Koalisi Pangan BAIK, Rabu (16/4).

Maria yang biasa disapa Shindy menuturkan, Flores Timur punya keberagaman pangan lokal yang sangat berlimpah. Beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Petani di sana juga menanam jagung, jewawut, pisang, singkong, dan umbi-umbian lain. Namun, pola makan warga bergeser dalam beberapa dekade terakhir. ”Saat ini masyarakat di sini sangat bergantung pada beras. Padahal, pengganti karbohidrat di sini sangat beragam,” ujarnya. Dampaknya luas. Ketergantungan warga terhadap pangan dari luar daerah memengaruhi perekonomian warga setempat. Peluang ekonomi petani lokal menyempit karena pangan lokal yang mereka hasilkan kurang diminati. Dampak lainnya, kelestarian budaya berpotensi tergerus. Pangan lokal tak sekadar makanan, tetapi juga warisan leluhur yang sarat nilai-nilai sejarah dan budaya

Melalui Komunitas Wetan Hewa Lewo Rotan atau Wetan HLR yang beranggotakan puluhan petani muda, Shindy membudidayakan pangan lokal di desanya. Mereka mengumpulkan beragam benih tanaman lokal, termasuk varietas padi lokal, jagung, dan umbi-umbian. Mereka juga bergerak dalam dunia wirausaha. Bahan pangan lokal diolah menjadi berbagai produk makanan yang dijual di kios-kios di desa tersebut. Media sosial dimanfaatkan untuk mempromosikannya. “Selain budidaya dan mengembangkan wirausaha, kami mengedukasi pentingnya mengonsumsi pangan lokal,” ucapnya. Butuh berbagai strategi untuk menciptakan pasar pangan lokal. Tanpa ada kepastian hasil panen diserap pasar, masyarakat akan ragu untuk menanam dan membudidayakan pangan lokal. Selain itu, kenyang tak harus makan nasi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :