Tarif Trump berdampak pada Pelaku Usaha
Kebijakan tarif 32 % yang diberlakukan AS terhadap Indonesia mulai berimbas pada pelaku usaha. Rencana ekspor kopi arabika Wanoja dari Bandung, Jabar, ke AS untuk sementara ditangguhkan. Kebun kopi yang berada di Lembah Kamojang di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut ini dikelola oleh Kelompok Tani Wanoja dan UMKM Wanoja Coffee. Sebanyak 108 petani dan 97 pekerja UMKM Wanoja Coffee terlibat dalam produksi kopi arabika Wanoja. Luas tanam kopi arabika Wanoja mencapai 108 hektar. Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi, Jumat (4/4) mengatakan, pihaknya harus menangguhkan sementara ekspor biji kopi yang telah disangrai (roasted bean) ke AS, untuk mempelajari kebijakan Trump dan dampaknya pada biaya operasional pengiriman biji kopi ke sana.
Ia memaparkan, Wanoja Coffee mengirimkan 300 kg roasted bean ke AS selama setahun terakhir, dengan harga 20 USD (Rp 331.200) per kg. ”Kebijakan Trump pastinya berdampak bagi pendapatan kami,” ungkap Satrea. Ia menuturkan, rencana ekspansi pengiriman 600 kg green bean ke AS tahun ini terpaksa ditunda. Ia masih mendiskusikan perubahan biaya pengiriman dengan calon importir pasca kebijakan bea masuk hingga 32 %. Produksi Wanoja Coffee mencapai 80 ton pada akhir 2024. Sebanyak 63 % dari total produksi diekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan AS. ”Kami berharap ada dukungan pemerintah pusat ataupun daerah pasca penerapan kebijakan bea masuk ke AS hingga 32 % seperti relaksasi pajak. Agar kegiatan ekspor tak terkendala tingginya biaya operasional,” ujar Satrea.
Tarif impor baru AS juga bakal memukul rumah tangga jutaan petani sawit dan karet. Pengusaha berpotensi membebankan kenaikan tarif pada petani dengan cara menekan harga panen. Pengamat ekonomi dan penasihat di Ikatan Alumni Universitas Jambi, Usman Ermulan, mengatakan, penerapan tarif bea masuk ke AS bakal segera berdampak terhadap jatuhnya harga-harga komoditas unggulan di daerah. Saat ini, harga sejumlah komoditas unggulan tengah tinggi. Harga rata-rata buah sawit (TBS) Rp 3.600 per kg. Harga getah karet mencapai 30.000 per kg. Itu merupakan harga tertinggi yang disambut antusias petani. ”Harga panen yang sedang bagus-bagusnya ini dikhawatirkan bakal segera terganggu oleh munculnya penerapan tarif impor AS,” ujar Usman. (Yoga)
Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023