;

Polemik Pengadaan Beras, Bulog Jadi Sorotan

Lingkungan Hidup Hairul Rizal 04 Feb 2025 Bisnis Indonesia
Polemik Pengadaan Beras, Bulog Jadi Sorotan

Periode panen raya padi diperkirakan akan segera dimulai, dengan produksi padi pada Maret—Mei 2025 diperkirakan melimpah. Produksi pada periode panen raya biasanya mencapai 60%-65% dari total produksi tahunan, sedangkan sisanya dihasilkan pada musim panen gadu dan paceklik. Namun, fluktuasi harga gabah yang terjadi akibat ketergantungan pada iklim dan musim panen yang tidak merata menyebabkan petani dan konsumen sering menghadapi ketidakpastian harga. Petani memiliki daya tawar yang rendah, terutama karena surplus produksi yang harus segera dijual dan kualitas gabah yang dipengaruhi cuaca.

Dalam kondisi pasar yang monopsonistik, pemerintah, melalui Bulog, berperan penting untuk menstabilkan harga dengan menyerap gabah dari petani. Pemerintah juga menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk menjaga kestabilan harga gabah. Tahun ini, produksi beras diperkirakan mengalami surplus, yang memungkinkan Bulog tidak perlu melakukan impor beras. Namun, tantangan bagi Bulog adalah penyerapan gabah domestik yang masih rendah dalam lima tahun terakhir, serta terbatasnya kapasitas penggilingan dan dryer yang dimiliki.

Untuk mengatasi hal ini, Bulog berencana menggandeng mitra penggilingan swasta untuk mengoptimalkan penyerapan gabah. Meskipun langkah ini akan meningkatkan harga pokok beras Bulog, diharapkan dapat memperbaiki likuiditas swasta dan mengurangi persaingan langsung di pasar. Namun, kualitas beras produksi Bulog yang lebih rendah dibandingkan beras impor dapat memengaruhi persepsi konsumen. Meskipun demikian, konsumen diharapkan menghargai produk lokal yang segar dan cocok dengan selera Indonesia, serta mendukung keberlanjutan usaha tani lokal.

Tags :
#Beras #Pangan
Download Aplikasi Labirin :