Kesempatan Industri Musik di Indonesia Tahun 2025 Terbuka Lebar
Gegap gempita ragam konser sepanjang 2024 telah terlewati. Namun, aneka festival musik, baik yang menampilkan musisi internasional maupun dalam negeri, masih akan mewarnai industri musik pada 2025. Peluang masih terbuka lebar walau tantangan ekonomi masih membayang. Dalam survei Jakpat bertajuk ”Music Concert Trends & Fan Behaviors 2024”, sebanyak 8 persen responden telah membeli tiket untuk satu atau lebih konser dalam enam bulan mendatang. Hal itu terhitung mulai September 2024. Ada pula 28 persen responden lain yang mengaku telah berencana pergi ke konser musik. Salah satu yang telah dinanti adalah penampilan band rock Amerika Serikat, Green Day, yang dijadwalkan beraksi pada Februari 2025. Namun, masih ada 38 persen responden lain yang tertarik, tetapi belum berencana, sedangkan 26 persen responden menegaskan tak tertarik mengikuti festival musik.
Riset Jakpat menunjukkan masih besarnya peluang industri musik Indonesia pada 2025 meskipun sejumlah musisi dunia telah tampil pada tahun lalu. Mereka, antara lain, Ed Sheeran, Bruno Mars, Avenged Sevenfold, dan Aespa. ”Saya melihat tren atau festival musik masih bagus, tetapi sangat selektif. Karena daya beli masyarakat sedang turun, konsumen yang mampu membeli tiket ini biasanya bukan kaum mendang-mending, artinya ada persediaan untuk belitiket,” tutur pendiri Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Anas Syahrul Alimi, di Jakarta, Minggu (19/1/2025). Konsumen, kata Anas melanjutkan, akan lebih ketat memilih festival musik yang akan dihadiri. Hanya segmen tertentu yang masih leluasa membeli tiket konser. Pangsa pasar ini relatif tidak terdampak signifikan oleh pelemahan daya beli. Setidaknya dua faktor yang memengaruhi keputusan penonton. Pertama, barisan artis atau musisi yang akan tampil. Kedua, konsep festival yang diusung promotor musik.
Dari 1.739 responden penggemar konser, survei Jakpat menunjukkan, 20 persen di antaranya atau 1 dari 5 orang rela pergi ke luar kota untuk menikmati penampilan para artis. Namun, 44 persen lainnya masih ragu jika harus ke luar kota guna menonton konser. Sisanya menyatakan tidak tergerak. ”Penampilan artis dan harga tiket merupakan pertimbangan besar ketika menghadiri konser. Waktu dan lokasi juga komponen lain yang dinilai penting,” seperti tertulis dalam laporan Jakpat. Menanggapi persoalan harga tiket, Anas mengakui, tarif tiket konser untuk menyaksikan performa artis internasional di Indonesia memang tergolong sangat tinggi. Hal ini erat kaitannya dengan cara promotor mendapatkan kesepakatan bisnis dengan para artis. Sebagai pelaku industri kreatif, Anas mengemukakan, strategi paling jitu guna menekan adanya andil dan peran pemerintah. Negara yang hadir dapat memastikan keberlanjutan industri musik agar terus diminati. ”Jadi, negara harus support secara finansial dan regulasi. Ada peran beberapa kementerian yang harus lebih proaktif dari sisi dukungan pembiayaan,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
30 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023