;

PEREKONOMIAN DAERAH - PARIWISATA DALAM TEKANAN HEBAT

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 18 Aug 2020 Bisnis Indonesia, 06 Agustus 2020
PEREKONOMIAN DAERAH - PARIWISATA DALAM TEKANAN HEBAT

Tiga provinsi yang mengandalkan sektor pariwisata mengalami tekanan hebat akibat pandemi virus corona yang tecermin dari penurunan tajam pertumbuhan ekonomi, yaitu Bali, Kepulauan Riau (Kepri), dan Jawa Barat. Penurunan pertumbuhan ekonomi ketiga provinsi itu bahkan lebih dalam dari nasional yang terkontraksi sebesar 5,32%.

Kepala BPS Bali Adi Nugroho mengatakan kontraksi pertumbuhan ekonomi Bali merupakan yang terdalam sepanjang sejarah Pulau Dewata. Dia menekankan penurunan tajam ini disebabkan karena pandemi Covid-19 yang berdampak negatif terhadap perekonomian daerah secara keseluruhan. 

Bukti itu bisa dilihat dari data BPS Bali yang memperlihatkan kategori lapangan usaha akomodasi, makanan dan minuman sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar, justru tumbuh negatif. Hanya tercatat lapangan usaha informasi dan komunikasi yang mengalami pertumbuhan positif.

Berbagai pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan penularan Covid-19 hingga Juni 2020 dan pengetatan protokol lalu lintas transportasi laut dan penyeberangan dalam rangka mudik Lebaran berpengaruh langsung pada capaian nilai tambah produksi lapangan dan ikut memberikan dampak negatif bagi seluruh lapangan usaha.

Hal yang sama juga dialami Provinsi Kepri. Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing menuturkan penurunan pertumbuhan ekonomi itu karena banyak sektor industri lumpuh, terutama sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis dari Singapura. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam Mansyur menuturkan 75 unit hotel yang tutup akibat pandemi Covid-19 pada semester I/2020. Saat ini, hanya ada lima hotel yang masih belum beroperasi dari 233 unit hotel di Batam. Namun, tingkat hunian masih tidak berubah.

Dari Bandung, hantaman pandemi Covid-19 menyebabkan ekonomi Provinsi Jawa Barat selama kuartal II/2020, hanya empat kategori lapangan usaha yang masih mampu tumbuh positif, yaitu lapangan usaha informasi dan komunikasi; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta jasa pendidikan.

Kondisi yang relatif lebih baik datang dari Sulawesi Selatan dengan catatan kontraksi ekonomi pada kuartal II/2020 sebesar 3,87%. Kepala BPS Sulsel Yos Rusdiansyah menjelaskan kontraksi perekonomian Sulsel pada kuartal II/2020 dipicu oleh perlambatan laju pertumbuhan pada sejumlah sektor ekonomi, misalnya transportasi, perhotelan dan restoran, perdagangan, industri pengolahan, dan konsumsi rumah tangga.

Download Aplikasi Labirin :