TRANSISI ENERGI bukan target yang muluk untuk jangka panjang
Transisi dari energi fosil ke energi rendah emisi di Indonesia kian mendesak, terlebih jika dikaitkan dengan cita-cita pertumbuhan ekonomi 8 % yang terus mengemuka sejak dimulainya pemerintahan baru. Namun, butuh komitmen dan keseriusan untuk meningkatkan energi bersih, dimulai dari target-target jangka pendek, bukan dokumen-dokumen target jangka panjang yang muluk. Selama ini, terdapat sejumlah dokumen yang berisi target pengembangan energi terbarukan. Baik dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), Rancangan Umum Energi Nasional (RUEN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), maupun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Namun, realisasinya jauh dari harapan. Target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi pada 2025, seperti tertuang dalam KEN, hampir pasti tidak akan terwujud.
Sebab, berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga semester I-2025, capaiannya baru 13,93 %. Setiap tahun, realisasi energi terbarukan selalu ada di bawah target. Tambahan pembangkit listrik, dalam RUPTL PLN 2021-2030, yang disebut didominasi energi hijau, juga tidak sesuai harapan. Berdasarkan catatan Kompas, hingga September 2023, data Kementerian ESDM menunjukkan, pembangkit yang telah beroperasi 8,6 gigawatt (GW) atau di bawah target 2023 yang 16,9 GW. Artinya, hanya tercapai 50,91 %. Saat ini pemeritah tengah menyiapkan pembaruan KEN. Begitu juga pembaruan RUKN dan RUPTL PLN. Telah digaungkan sejak semester I-2024, dokumen-dokumen tersebut, bahkan hingga pergantian pemerintahan, belum ada yang disahkan.
Direktur Eksekutif Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan, target pertumbuhan ekonomi 8 %, akan membutuhkan high quality investment yang pasti bakal membutuhkan energi bersih. Pasalnya, perusahaan-perusahaan besar dan multinasional membutuhkan energi bersih jika hendak berinvestasi di Indonesia.”Ukuran transisi energi adalah jangka pendek, misalnya 2-3 tahun ke depan. Mau bicara RUPTL PLN, RUEN, atau apa pun itu, seharusnya fokus dan bertanggung jawab pada target-target jangka pendek. Itu prioritas nomor satu,” ujar Putra, Jumat (15/11). Dalam target pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, perlu ada semacam confidence level. Dengan demikian, akan terklasifikasi mana saja proyek yang akan dikejar dan dijalankan. Apabila target selalu bersifat jangka panjang dan minim pertanggungjawaban, yang ada hanya peta jalan, sedangkan realisasi minim. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023