;

Harga Sejumlah Komoditas Pangan Dunia Naik Lagi

Lingkungan Hidup Yoga 11 Nov 2024 Kompas
Harga Sejumlah Komoditas Pangan Dunia Naik Lagi

Harga sejumlah komoditas pangan dunia naik lagi. Namun, hal ini kurang menguntungkan Indonesia yang merupakan pengekspor minyak sawit terbesar dunia. Kenaikan harga pangan dunia itu justru merugikan Indonesia yang juga pengimpor sejumlah bahan baku pangan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat rata-rata indeks harga pangan dunia pada Oktober 2024 sebesar 127,4. Angka indikator harga berbagai komoditas pangan pokok dunia itu naik 2 % secara bulanan. ”Kenaikan harga minyak nabati dan gula yang cukup signifikan menjadi pendorong utama terkereknya rerata indeks harga pangan,” sebut FAO dalam laporan terbarunya yang dirilis di Roma, Italia, Jumat (8/11) waktu setempat.

Indeks harga minyak nabati pada Oktober 2024 sebesar 152,7. Indeks ini melonjak 7,3 % secara bulanan dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir, lantaran kenaikan harga CPO, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed. Harga CPO internasional meningkat selama lima bulan berturut-turut sejak Juni 2024. Kenaikan harga komoditas itu dipicu kekhawatiran pasar atas penurunan produksi musiman di negara-negara produsen utama di Asia Tenggara. Demikian juga dengan minyak bunga matahari, lobak, dan kedelai, harganya juga terus meningkat akibat kekhawatiran terhadap penurunan produksi. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai, dalam kondisi normal, kondisi itu akan menguntungkan Indonesia.

Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan semakin kompetitifnya harga berbagai minyak nabati dunia, kondisi itu justru kurang menguntungkan Indonesia. ”Pasar masih relatif lesu. Sejumlah negara, seperti India dan China, juga memiliki alternatif impor minyak nabati selain CPO. Keduanya bahkan telah memiliki cadangan beberapa jenis minyak nabati yang cukup besar,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Minggu (10/11). Pada saat harga CPO naik, nilai dan volume ekspor Indonesia justru turun. Pada September 2024, BPS menyebutkan, nilai ekspor CPO dan produk turunannya 1,38 miliar USD, turun 21,64 % secara bulanan dan 24,75 % secara tahunan. Adapun volume ekspor 1,49 juta ton, turun signifikan dari September 2023 dan Agustus 2024 yang masing-masing 2,15 juta ton dan 1,97 juta ton. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :