Bisnis Hidangan Pencuci Mulut yang menjamur di Seantero Jakarta
Selasa (22/10) pukul 17.00, di Flor, dessert shop di Jalan Gunawarman, Jakarta, ada delapan pengunjung. Ada yang membuka laptop dan ada pula yang duduk berempat berbincang santai sambil makan croissant dan kreasi viennoiserie lainnya. Kevin Krisna Pratama, chef di Flor, mengatakan, pada hari biasa, pengunjung Flor yang datang kebanyakan pekerja kantoran, termasuk pekerja ekspatriat dari Korsel dan Jepang, pada hari biasa, pengunjung yang datang umumnya keluarga. ”Kalau akhir pekan, pengunjung yang datang lebih banyak menikmati hidangan di tempat sekaligus pesan untuk dibawa pulang,” ujarnya. Rata-rata pengunjung berasal dari kelas menengah ke atas. Sebagian di antara mereka sudah terpapar informasi mengenai patiseri internasional dan terbiasa menikmatinya sehari-hari. Untuk urusan harga, kelompok itu tidak terlalu peduli. Bahkan, ada pengunjung belanja sampai Rp 9 juta per sekali pengeluaran.
Flor memanggang croissant, pain au chocolat, dan kreasi viennoiserie tiga kali, yakni pada pukul 07.00 WIB, pukul 11.00, dan terakhir pukul 14.00, untuk menjaga standar kesegaran produk roti. Pengunjung yang dating ke toko, selain bisa makan di tempat sambil bincang santai atau rapat semiformal, dapat melihat langsung proses pembuatan roti melalui jendela kaca besar di bagian kanan ruangan. Per sekali pemanggangan terdapat 70-100 roti, sehari terdapat rata-rata 300 roti. Varian yang paling disukai pengunjung adalah croissant. Dalam sebulan bisa terjual 1.000-2.000 buah. Fenomena kumpul sambil makan hidangan pencuci mulut, khususnya varian patiseri internasional, terbilang baru di Indonesia.Hingga sekarang, masih populer di Jakarta dibandingkan kota-kota besar lainnya, tetapi berpotensi menyebar.
Founder dan Chef Oma Elly, resto gelato, Andry Susanto berpendapat, gelato sekarang bersaing dan relatif mampu menyubstitusi minuman kopi, karena harga satu sekop gelato sudah bisa menyamai satu cangkir kopi. ”Harga dua sekop gelato di bawah Rp 40.000 sudah jamak ditemukan. Kualitas rasanya pun bersaing dengan gelato impor,” katanya. Andry menciptakan aneka rasa gelato untuk dijual di Gelateria Oma Elly sejak enam tahun lalu. Total varian rasa mencapai 300.Andry telah memiliki tujuh gerai di Jakarta. Semuanya berada di dalam mal. Dalam sebulan, dia bisa menjual 25.000 kg lebih gelato. Setiap bulan dia membuka satu gerai baru di dalam mal. Oma Elly juga aktif mempromosikan gelato di pameran, seperti festival UMKM kreatif. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023