Pro dan Kontra Kabinet Gemuk Prabowo
DEMOKRASI memerlukan oposisi. Meskipun kalimat ini terkesan sederhana, pemahaman dan penerapannya sering kali menjadi tantangan bagi banyak pihak. Berbagai faktor, seperti kekuasaan, uang, dan nasionalisme, kerap kali menjadi alasan di balik kurangnya dukungan terhadap keberadaan oposisi. Dalam banyak kasus, individu atau kelompok yang berkuasa mungkin merasa terancam oleh suara-suara yang berbeda, sehingga mereka berusaha membungkam oposisi demi mempertahankan posisinya. Hal ini menciptakan lingkungan yang menganggap kritik dan perbedaan pendapat sebagai ancaman, bukan bagian integral dari proses demokratis yang sehat. ?Dalam konteks politik Indonesia, pernyataan ini makin relevan.
Dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024 pada 8 Oktober 2024, presiden terpilih Prabowo Subianto mempertahankan keputusan membentuk kabinet gemuk sebagai langkah menjaga stabilitas pemerintahan. Pernyataan itu menjadi kenyataan ketika Prabowo mengundang lebih dari 40 figur publik ke kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada 14-15 Oktober 2024, atau sepekan menjelang pelantikannya. Pernyataan dan langkah Prabowo ini kemudian menimbulkan pertanyaan yang lebih dalam: apakah kabinet gemuk tersebut benar-benar diperlukan untuk mencapai stabilitas yang diinginkan atau justru berfungsi sebagai alat untuk konsolidasi kekuasaan? ?Prabowo menganggap kabinet gemuk penting, mengingat luasnya wilayah Indonesia dan kompleksitas masalah yang dihadapi. Di permukaan, argumen ini tampak logis. Namun, jika kita telaah lebih mendalam, kabinet gemuk sering kali berfungsi sebagai sarana transaksi politik, bukan kepentingan stabilitas jangka panjang. (Yetede)
Tags :
#NasionalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023