;

Ketahanan Pangan Terancan Krisis Iklim

Lingkungan Hidup Yoga 18 Oct 2024 Kompas
Ketahanan Pangan Terancan Krisis Iklim
Krisis iklim mengancam ketahanan pangan dan sistem pertanian global. Cuaca dan iklim ekstrem mengakibatkan produktivitas tanaman menurun. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebutkan, 733 juta orang di dunia mengalami kelaparan, sementara 55 persen produksi pangan dunia berada di daerah yang dilanda kekeringan. Laporan Krisis Pangan Global 2024 yang diterbitkan World Food Programme menunjukkan 282 juta orang di 59 negara pada 2023 memerlukan tindakan segera demi mengatasi kesenjangan konsumsi pangan. Selain itu, ada 36 juta orang berada dalam kondisi darurat rawan pangan. Penurunan produksi sektor pertanian dan perikanan sebagai akibat krisis iklim turut memengaruhi krisis pangan di sejumlah negara. Sektor pertanian menjadi korban iklim, tetapi juga kontributor emisi gas rumah kaca antara lain karena alih fungsi lahan serta pemakaian pupuk kimia.

Di Indonesia, berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), perubahan iklim berpotensi menurunkan produksi padi 1,13 juta-1,89 juta ton. Lahan pertanian seluas 2.256 hektar pun terancam kekeringan. Dari hasil kerangka sampel area padi, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi beras nasional Januari-Desember 2024 sebesar 30,34 juta ton, turun 760.000 ton atau 2,43 persen dibandingkan tahun lalu. Potensi penurunan produksi beras tertinggi terutama terjadi di sentra pertanian nasional, yakni Jawa Barat yang turun 361.140 ton, Jawa Timur turun 279.660 ton, dan Jawa Tengah berkurang 146.040 ton (Kompas.id, 15/10/2024). Penurunan produksi beras ini terjadi akibat mundurnya musim tanam yang dipicu fenomena El Nino. Pengaruh perubahan iklim pada sektor pertanian bersifat multidimensi, mulai dari sumber daya, infrastruktur pertanian, sistem produksi, hingga ketahanan pangan.

Karena itu, Hari Pangan Sedunia 2024, yang diperingati pada 16 Oktober, mengambil tema ”Hak atas Pangan untuk Kehidupan dan Masa Depan Lebih Baik”. Selaras dengan tema ini, menurut FAO, pangan harus beragam, bernutrisi, terjangkau, mudah diakses, dan aman. Indonesia telah merancang strategi jangka panjang untukketahanan iklim dan rendah karbon 2050. Di sektor pertanian, strategi yang diterapkan meliputi pengembangan irigasi, adopsi teknologi pertanian cerdas iklim, dan praktik pertanian berkelanjutan. Strategi ini tak menekankan mencetak sawah baru sebagai solusi atas krisis iklim. Program cetak sawah baru berpotensi menambah emisi gas rumah kaca akibat perubahan tata guna lahan. Proses ini juga kerap terkait deforestasi yang memperburuk krisis iklim. Maka, sistem pangan Nusantara perlu dibangun berdasarkan keberagaman sumber dan budaya pangan lokal. Penerapan strategi ini menjadi kunci guna mewujudkan ketahanan pangan yang bergizi dan mudah diakses warga. (Yoga)
Tags :
#Pangan
Download Aplikasi Labirin :